Ulasan Cerpen, “Sesuatu yang Merasuki Lemariku” Karya Sabrina Lasama

Cerpen bisa dilihat di sini: http://www.ngodop.com/art/14/Sesuatu-yang-Merasuki-Lemariku

Tertarik membaca cerita menarik lain! buka aja di sini: http://www.ngodop.com/

Unsur Intrinsik

Tema

Cerita yang bertema kehidupan keluarga yang dialami oleh seorang anak perempuan yang memiliki seorang Ibu tiri namun tidak berperan selaknyanya ibu di rumahnya. Anak perempuan yang berusia lima belas tahun ini merasa dirinya seolah sama saja dengan hadirnya atau tidak hadirnya ibu tiri, anak perempuan itu tidak menerima kasih sayang darinya.

Meskipun anak perempuan itu sudah memiliki Ayah kandung dan Ibu tiri yang di rumahnya, namun dia merasa sendirian ketika di tinggal di Dinas Ayahnya. Sampai suatu  ketika dia mendapati lemari besar yang bernuansa horor karena lemari tersebut merasa ada penghuninya. Sedangkan lemari tersebut diletakkan di kamar anak perempuan itu yang suatu ketika tidak sengaja ibu tirinya menitipkan pakaian di lemari tersebut.

Tiba-tiba ibu tirinya dilahap oleh lemari tersebut dan ketika ayahnya pulang dari Dinas mendapati istrinya dalam keadaan yang tubuhnya membiru setelah dikeluarkan dari lemari tersebut. Ternyata penunggu lemari tersebut merasa ibu tiri dari anak perempuan itu merasa diingatkan kisahnya kembali karena istri dari penunggu lemari tersebut pernah berselingkuh sampai penunggu lemari tersebut gantung diri. Hal serupa yang dilakukan ibu tiri anak perempuan itu ketika ditinggal ayahnya Dinas, sungguh tragis bukan!

Alur

Alur yang digunakan yaitu menggunakan alur maju secara runtut dengan akhir yang menarik yaitu “Si anak perempuan menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada Ayahnya.” Dengan pembuat akhir cerita dibuat menggantung.

Latar

Kamar yang di sesaki lemari kuno yang besar dengan ukiran yang mendominasi, lemari tersebut memiliki tiga pintu berhadapan persis dengan kasur si tokoh utama dengan cermin yang ketika tidur akan terlihat jelas sorotannya.

Tokoh dan Perwatakan

Lyla: tokoh utama dengan watak suka menyembunyikan perasaan dan kejadian yang dialami, pemberani, kesepian.

Ayah Lyla: Suami sekaligus ayah dari tokoh utama sifatnya tidak percayaan dengan hal-hal mistis, suka menunduh, dan tidak sensitif atau peka terhadap sekitar.

Anita: Ibu tiri yang suka selingkuh, matrelaistis, mementingkan diri sendiri.

POV

Point yang dapat diambil dari cerita ini yaitu kejadian yang dialami penghuni lemari yang bunuh diri karena ditinggal istrinya selingkuh sama dengan kejadian istri dari ayah tokoh utama yang mengajarkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga itu memerlukan rasa saling mencintai, kasih sayang, perhatian, komitmen serta kesetiaan agar kehidupan rumah tangga dapat berjalan secara harmonis dan awet sampai akhir hayat memisahkan. Selain itu sesibuk apapun orang tua dalam urusan duniawinya, tetap harus memikirkan dan memperhatikan kasih sayang kepada anaknya, karena hal tersebut merupakan kewajiban orang tua selain memberikan nafkah.

Ejaan Bahasa Indonesia

Menggunakan bahasa yang santai dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Namun terdapat beberapa kata yang digunakan kurang konsisten yaitu antara kata “tak” dengan  kata “tidak.” Selain itu, untuk seluruhan sudah bagus dan rapi.

Unsur Ekstrinsik

Cerita ini mengandung nilai sosial yang kuat, yaitu mengajarkan bahwa selingkuh itu melanggar norma, hukum, serta kaidah yang berlaku. Menggambarkan tentang kehidupan sosial dalam keluarga itu perlu direkatkan karena dapat merusak kekeluargaan seperti halnya Lyla yang kurang kasih sayang orang tua.

Surat Kelima: Tuhan, tolong sampaikan!

Surat Kelima
Tuhan, tolong sampaikan!

Suasana terlihat begitu ramai, semua yang telah usai dengan kegiatan senamnnya mulai menghaburkan diri dari barisan. Terlihat seorang yang mengenakan celana training, dengan kaos putih pendek dan rambutnya yang lurus sebahu tengah dikucir kuda. Dia menatap kami dengan tajam, lalu mulai berjalan menghampiri. Sasaran telah darang ke kandang, kamipun juga bersiap meladeni. Si Prita yang kami sambut untuk memberikan penjelasan yang sebenar-benarnya tengah berdiri di hadapanku.

“Aku sudah tau Prit, sekarang jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?” Light yang ada di sampingku, angkat bicara.

“Maafkan aku Light, hanya ini caraku agar aku bisa dekat dengamu. Aku selama ini mencitaimu Light.” Jawab Prita sambil menangis.

“Tapi bukan seperti ini Prit, mengkambing hitamkan orang seenaknya itu perbuatan yang keji Prit. Apalagi orang itu adalah kekasihku, dan juga penyelamatnya adikku.” Jawab Light dengan geram.

“Maafin aku Light, aku benar-benar menyesal. Please maafin aku.” Rengek Prita.

“Kalau minta maaf seharusnya sama Leina bukan sama aku.” Kata Light.

“Iya Light, boleh aku minta waktu berdua aja sama Leina, Light. Aku ingin minta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Leina.” Rengek Prita kembali.

Light, Lily dan Kak Lato meninggalkanku, Menjauh beberapa meter dari kami berdua. Lalu Prita mulai angkat bicara kembali.

“Nah, sekarang kamu sudah puas. Merusak hubunganku sama Light, Hah!” Prita berubah drastis. Sikapnya yang sok imut, dan sok menyesal sudah sirna.

“Eh, kamu nggak tau diri ya. Bukannya minta maaf malah nyolot.” Jawabku kesal.

“Seumur hiduppun aku nggak mau minta maaf sama kamu, karena kamu Light jadi jauh dariku. Karena kamu Lihgt jadi mencintai orang lain dan bukan aku.” Jawab dia.

“AKU BENCI KAMU!” Teriak Prita.

“Pyaaarr.” Prita memukul kepalaku dengan botol kaca yang baru diminumnya tadi setelah usai senam.

“Leinaaaaa….” Terdengar suara samar memanggilku.

Tuhan, apakah ini surga, aku mulai membuka mata untuk pertama kalinya setelah sebab apa aku mulai tertidur di cerita lalu. Samar dalam pandangan pertama, pusing di kepala juga masih menghampiri. Sunyi dan tiba-tiba.

“Leina.” Terdengar suara serentak.

Aku mulai melihat sekitar, sorotan mata mereka yang begitu teguh menungguku. Sorotan mata yang begitu mencemaskanku dan ketika itu pula aku baru tersadar. Bahwa ini bukanlah surga, melain kan rumah sakit yang sering aku kunjungi. Yah, ternyata aku belum mati.

Mereka tersenyum melihatku kembali ke sisi mereka lagi. Meskipun begitu, aku tetap bahagia karena mereka aku ada. Karena mereka pahitku ini menjadi tiada, sejuta masalah yang menerjang, tapi semangatku tidak akan hilang. Demi mereka yang aku cinta.

Jadi….
Tuhan, tolong sampaikan! kepada mereka yang special seperti aku ini. Jangan pernah menyerah meskipun hidupmu tidak senormal orang-orang yang di sekitar kalian. Jangan berkecil hati, karena takdir memanglah begini, kita tidak bisa mengelak apa yang direncanakan Tuhan untuk kita selama hidup di dalam dunia-Nya. Sesungguhnya di balik kepedihan itu ada kebahagiaan, karena mereka itu memang selalu datang beriringan. Tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Seperti halnya diriku ini yang masih penyakitan, masih banyak di benci orang layaknya Prita yang menghalalkan segala cara demi menjatuhkan. Tapi tak apa, pasti ada hari esok yang cerah. Pasti ada orang lain yang membela dan menyelamatkan, karena kita tidak hanya hidup dengan sendirian. Melainkan hidup untuk berteman dan berpasang-pasangan.
Contohnya ya aku sama Light ini, ibarat pungguk yang merindukan bulan, dan kini cerita berakhir setelah tiga tahun kemudian. Setelah kejadian masa lalu yang begitu kelam, Light kini menjadi begitu sangat diandlakan, penyanyang dan hanya mencintai diriku seorang. Sungguh sempurna bukan, kini sekarang aku menjadi pungguk yang menggapai bulan. Bulanku kini, sekarang sedang berusaha memilikiku, sedang berusaha membuktikan di hadapan orang-orang dan di hadapan Tuhan Sang Pencipta bahwa aku kini akan menjadi wanitanya, seutuhnya dan selama-lamanya.
“Jadi bagaimana saksi, sah…?” Terdengar suara dari sang penghulu.

Surat Keempat: Tuhan, tolong sampaikan!

Surat Keempat
Tuhan, tolong sampaikan!

Suntuk, setelah sekian lama membusuk di rumah sakit, di rumahpun juga begitu. Aku merasa bosan, sore ini aku berinisiatif mengajak Kak Lato untuk pergi ke mall. Merasa badan yang semakin cungkring ini, aku rasa butuh baju yang berukuran S nih. Mata kembali membuka pada indahnya semesta, dari balik kaca mobil aku mulai melihat indahnya dunia. Kini yang kulihat sudah bukan tembok atau atap atau perabot rumah lagi, tapi melainkan surge dunia. Apalagi ketika sampainya di mall, duuuh dunianya wanita semua ada di sini.
“Ayo kak, naik ke lantai dua.” Sambil menggandeng tangan Kak Latoku ini.
“Iya, sayang.” Jawab Kak Lato sambil tersenyum.
Satu hal yang paling aku syukuri di dunia ini, ternyata enak banget ya punya saudara laki-laki yang sekarang lagi bersamaku ini. Kak Lato tercinta, selalu ada di antara duka dan bahagia. Dia satu-satunya dan selalu ada. Andai kakakku ini bukan saudara, udah bakalan aku jadiin pacar deh ni Kak Lato. Eh, jadiin suami aja udah joss nih. Wkwkwk
“Eh, STOP!” Aku menoleh kea rah belakang.
“Kak, itu bukannya Light sama Prita Kak.” Tanyaku ke Kak Lato.
“Loh, kok gandengan tangan.” Sambil berlari berbalik ke elevator, mencoba untuk melangkah kembali ke lantai dasar.
“Light, Light….” Teriakku.
“Leina!” Jawab Light sambil mencoba melepaskan genggaman Prita dari sikunya.
Prita yang tak tau diri masih senyum-senyum sendiri, tangannya masih tetap menggengam tangan Light meskipun sudah ditepiskan oleh Light.
“Kamu ke mana aja Na, kok baru keliatan.” Tanya Light berhati-hati.
“Udah tau aku ngilang, kamu nggak nyariin ya Light malah enak jalan sama Prita di sini.” Jawabku.
“Enggak, Na aku bisa jel….”Kalimatnya terputus.
“Udah ayook, nggak usah diurusin si penjahat itu.” Sambil menarik tangan Light dan kemudian menjauh.
Aku menangis, aku tak mampu bersuara. Air mataku menemaniku dalam diam, sungguh kejam. Baru aja ceriaku kembali, tapi seketika musnah oleh masalah-masalah yang terjadi. Rencana beli baju, telah sirna. Akhirnya aku mengajak Kak Lato kembali ke rumah. Sepertinya memang lebih baik di rumah, tidak bisa melihat apa-apa dan yang pasti hati akan terselolamatkan dari luka. Aku kembali mengurung diriku di dalam kamar, merenung mencoba mencari jalan keluar.
“Tok…tok…tok.” Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Na, makan dulu. Kamu dari tadi pagi belum makan kan.” Suara Kak Lato menghasut.
Memang sih, akupun juga lapar. Lupa kalau sehari ini ternyata aku belum makan, setidaknya sehat itu lebih penting dari apapun. Meski hanya sesuap nasi, aku harus tetap makan. Karena bagiku, sakitnya sakit itu lebih sakit daripada sakitnya cinta. Jadi, hidup ini harus tetap kulanjutkan. Aku mulai bangkit berjalan keluar, membuka pintu kamar dan kutemui Kak Lato di ruang makan.
“Lah, mau makan apa Kak!” Aku heran saat membuka tutup saji yang ternyata isinya kosong.
“Heee, nggak ada makanan ya Na.” Kata Kak Lato meringis.
“Iih, lantas tadi minta aku buat makan maksudnya apa Kak. Dasar aneh.” Kataku cemberut.
Sungguh Kak Latoku ini gemblung, suruh adiknya makan tapi ternyata nggak ada makanan. Maklum ayah dan ibu kami sedang di rumah nenek untuk merawat beliau yang kini sedang sakit. Setelah usut di usut, ternyata itu trik dari Kak Lato untuk ngajak aku keluar cari makan. Well, karena Kak Lato yang jomblonya super keterlaluan ini jadi kalau makan ya pasti nggak ada temen. Kemudian ya larinya pasti ke aku.
“Mau makan apa kak?” Tanyaku ke Kak Lato sambil melihat menu makanan di café ini.
“Kakaaak.” Tiba-tiba ada yang memelukku dari depan.
Seorang anak kecil yang manis sekali. Aku memandanginya, dan dia membalas dengan senyum mungil sambil menatapku dengan lekat. Aku masih terdiam, herannya nggak karu-karuan. Ini anak siapa sih, kok tiba-tiba di sini. Anehnya lagi dia masih melingkarkan kedua tangannya ke lingkar perutku, memelukku dengan erat sekali lagi. Lalu kulihat di mulai angkat bicara.
“Masih ingat aku nggak kak.” Tanyanya dengan tersenyum.
“Mmm, siapa ya dek?” Jawabku.
“Akuuu, yang kakak selamatkan waktu itu.” Jawab dia langsung pada intinya.
Aku masih tidak sadar, lalu aku diam sejenak dan berpikir kembali. Kemudian entah kenapa Tuhan membantuku kembali mengingat, rentetan cerita yang menyedihkan itu. Meskipun baru saja kemarin terjadi, tapi mampu membuatku pilu. Mata ini kembali menatapnya dengan aneka campur aduk perasaan, saat kembali melihatnya. Matanya yang saat ini sudah terbuka, senyumnnya yang manja, sungguh membuatku semakin menyayanginya. Hari ini memang aku baru mengenalnya, dank arena kejadian itulah yang membuatku bertemu dengannya. Gadis mungil adiknya Light yang aku selamatkan waktu itu menyapaku di sini.
“Aah, kamu.” Aku mencoba bersikap wajar.
Tapi entah kenapa dia selalu tersenyum kepadaku. Tanpa henti menatap, dan tersenyum lagi dan lagi. Dia mendongkkan kepalanya kembali.
“Terima kasih ye kak, udah nyelamatin aku.” Sambil tersenyum dia angkat bicara.
“Memangnya aku yang nyelamatin kamu.” Tanyaku dengan wajah datar.
“Iya, waktu itu pas Kakaknya meluk aku, aku sempet liah wajahnya kakak. Terus, terus habis itu aku nggak sadar setelah itu. Terus kan, kak setelah aku keluar dari rumah sakit aku pergi lagi ke tempat itu. Terus aku liat sepatu putihnya kakak di selokan. Tapi hanya satu. Yaah, maafin aku ya kak, tapi aku sedang mengumpulkan uang sakuku buat beliin sepatu kakak yang baru. Tapi maaf ya kak belum bisa beli sepatunya, soalnya uangnya belum cukup. Tapi aku janji bakal beliin sepatu baru buat kakak dan bla,bla, bla….” Meskipun baru bertemu dan ngobrol sebentar, tapi dia terlihat bersemangat ketika berbicara kepadaku.
Akupun akhirnya tersenyum, melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan. Mulutnya yang mungil tidak henti-hentinya mengoceh di hadapanku. Tingkahnya yang tiba-tiba ingin duduk di pangkuanku, membuatku geli. Kenapa dia bisa seakrab denganku dalam hitungan detik, padahal orang-orang di sekitarku butuh waktu yang lama hanya untuk mendekatiku. Setelah beberapa lama, dia akhirnya terdiam dan tidur di pelukkanku. Lilly si kecil ini, yang mungkin sekarang baru duduk di kelas satu SD dalam sekejap membuatku menyayanginya. Tapi bagaimana agar aku bisa membuat Light percaya, kalau aku bukan penjahatnya melainkan penyelamat dari adiknya.
Aku celingukkan, mencoba mencari keberadaan Light. Kalau Lilly di sini, Light pasti juga di sini. Kak Lato juga ikut mencari, melihat sekitar. Tidak ada tanda-tanda Light di café ini, lagian kenapa Lilly sekecil ini bisa ada di café kalau tidak ada orang dewasa yang mengjaknya.
“Gimana nih kak, apa kita bawa pulang aja?” Tanyaku ke Kak Lato sambil menggendong Lilly berjalan keluar.
Tiba-tiba ada sosok seorang pria bertopeng yang menghadang. Dia bertopi dan bermasker hitam, hanya terlihat matanya saja. Kami merasa heran, tapi aku merasa ada sesuatu dari tatapan matanya. Tunggu! Aku seperti mengenalnya.
“Light!” Sambil maenatap matanya aku mencoba memastikan.
“Hai Na.” Dia mulai menurunkan maskernya.
“Maaf ya Na, dari tadi sebenarnya aku nguping. Tapi ternyata memang kamu yang menyelamatkan adikku, maaf karena aku nggak percaya.Sini Lilly biar aku gendhong.” Jelas Light, sambil mengambil Lilly dariku.
“Iya, emang kamu itu bego Light.” Kak Lato mendengus kesal.
“Mmm, kalau begitu mari kita selesaikan.” Kataku kepada Light.
“Iya, aku setuju.” Jawab Light.
Kak Lato juga mengangguk setuju. Kamipun akhirnya pulang ke alam kita masing-masing, aku dan Kak Lato pulang ke rumah, Light dan Lilly juga pulang ke rumahnya. Pagi ini, aksi mulai dilancarkan. Aku, Kak Lato dan Light berniat ingin menemui Prita untuk minta penjelasan, tentunya dengan membawa Lilly sebagai saksi. Light sengaja mengajak ketemuan Prita, mereka janjian akan bertemu di gedung olahraga tempat orang-orang melakukan senam pagi.

Surat Ketiga: Tuhan, tolong sampaikan!

Surat Ketiga
Tuhan, tolong sampaikan!

                Kekasihku ini memang sungguh perhatian dan penyayang sekali. Dia anak fakultas teknik yang gedungnya berada di pucuk barat, sedangkan aku yang anak Seni dan Bahasa yang gedungnnya terletak di pucuk timur mampu dia sebrangi. Demi aku sang wanita yang dia cintai. Duuh, sungguh so sweet bukan. Light namanya, dia lebih tua dua tahun dariku dan sebentar lagi dia akan beranjak menuju perang ke dalam kehidupan nyata.

                “Nanti bagaimana kalau ada yang ngeliat?” Kataku kepadanya.

                “Nggak, mumpung masih sepi. Udah ayook.”

                Aku memeluknya dengan erat. Lalu dia mulai mengangkat menggendongku, kami saling beradu dalam senyum. Satu baris rentetan anak tangga telah kami lewati, tinggal satu belokkan kami sampai di lantai tiga tempat aku menimba ilmu di ruanganku. Tap, tap, tap, kami hamper sampai. Semua mata tertuju, kamipun tersipu malu. Ternyata sepi yang ada di lantai bawah menjadi ramai para mahasiswa sedang berkeliaran di lantai tiga ini. Lightpun langsung spontan menurunkanku.

                “Mmm, udah dulu ya. Dadaaah.” Kataku sambil berlari kecil menuju kelas. Duuh malu rasanya.

                Rabu, 30 Oktober 2019 Light akhirnya menjalani tahap akhir kuliahnya. Ceremonial wisuda telah digelar, tapi sayang aku tidak bisa hadir karena ada kerja part time hari ini. Pukul 11.00 aku mulai berangkat, menyusuri jalan yang entah kenapa lancar-lancar saja. Tidak macet seperti halnya ketika acara wisuda kian kendaraan yang mereka tumpangi sekeluarga tidak berhamburan di jalan-jalan ini.

                “Bruuk.” Dengan gesit aku menjatuhkan motorku ini yang aku tunggangi.

                Aku memeluk seorang anak kecil dan tiba-tiba terdengar suara hantaman keras di bagian pinggangku ini. Aku merasa melayang terpental menuju trotoar. Meskipun mata tampak samar, tapi aku mencoba memaksakan mata ini untuk tetap membuka untuk mengingat tragedi apa yang terjadi hari ini.

                “Aduh, sakit.” Rintihku sambil memeluk tubuh anak kecil.

                Aku yang masih memeluknya, memegang kepalanya dengan erat terlihat darah bercecer dari kepalanya. Tanganku dan pinggangku yang sakit sudah kuabaikan demi keselamatan anak ini.

                “Dek, dek bangun. Tolong, siapapun tolong!” Teriaku sambil membopoh anak ini.

                Terdengar suara sirine ambulan, kami sekeluarga membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku, Light dan keluarganya serta temannya Light yang namanya Prita ternyata masih sempat menyelamatkan hidupnya. Kata dokter kepalanya hanya terbentur trotoar dan tidak sampai  melukai tengkoraknya, jadi hanya luka luar yang masih aman untuk ditangani.

                “Bagaimana keadaanya Dok?” Tanyaku dengan penuh khawatir kepada Dokter yang tengah keluar dari ruang pemeriksaan.

                “Eh, Kamu…. Nggak usah sok peduli deh sama dia. Kamu kan yang nabrak dia sampai nggak sadarkan diri.” Cerocoh Prita kepadaku.

                “Eh, maksudnya apa. Ak….

                “Alaah, nggak usah ngelak lah. Aku tadi ngilat dengan mata kepalaku sendiri tau, kalau kamu yang nabrak Lilly adikmu ini Light.” Kata Prita sambil memaki-maki.

                “Jadi, dia adikmu Light!” Aku terkejut.

                “Light, please aku nggak….” Kalimatku terputus

                “Stop Na, aku nggak abis pikir sama kamu Na. Kenapa kamu bisa setega itu.” Light menangis memarahiku.

                Akupun menangis, melihat Light yang tidak mempercayaiku. Lalu, kenapa Prita bisa sekejam itu terhadapku. Bukankah selama ini dia temannya Light yang baik hati setau diriku. Sambil menahan perih di tangan, kaki terlebih lagi pinggangku ini yang sakit sekali, aku pergi. Terhina rasanya, kecewa dengan kelakuan mereka. Aku yang berjalan sambil tertatih-tatih, mataku yang mulai samar-samar dan semakin redup, masih bisa melihat sosok pria yang di depanku serasa ingin menghampiri.

***  (Di cerita lain)

                Dua hari kemudian, Lily adiknya lagi akhirnya dibolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Karena lukanya yang tidak cukup serius, Lilly diperbolehkan untuk rawat jalan sampai luka di kepalanya mengering.

                “Kak anterin ke tempat pas waktu aku kecelakaan dong Kak.” Pinta Lily.

                “Buat apa dek, kamu itu harus istirahat. Habis pulang dari rumah sakit bukannya pulang, tapi kok malah suruh ngantar ke tempat tragedy.” Light angkat bicara.

                Sesampainya di TKP, Lilly menyusuri sepanjang jalan dan mencoba untuk mencari sesuatu. Sampai dia melihat sepatu putih yang masih tertinggal di dalam selokkan dekat dengan samping trotoar pembatas jalan. Lilly masih diam berjongkok mengamati.

                “Kok, hanya satu.” Kata Lily yang masih melihat-lihat sekitar.

                “Ayo pulang dek, kamu tu cari apa sih?” Kata Light menghampiri.

*** (Di lain cerita)

                Pusing, samar-samar aku mencoba untuk membuka mataku yang berat. Menatap langit-langit pada atap yang tidak pernah kukenali ini. Badanku serasa sakit semua, terlebih lagi pinggangku ini saat kupaksa untuk mencoba duduk dari tempat tidur ini. Tuhan, sesungguhnya apa yang terjadi. Aku merasa sesuatu yang begitu berat telah menimpaku, meskipun masih terasa pusing aku mencoba melihat keadaan sekitar.

                “Pagi Dek.” Terdengar seperti suaranya Kak Lato.

                Sambil menata bantal yang ada di belakangku, Kak Lato mencoba untuk mendudukkanku.

                “Aku kenapa Kak?” Tanyaku masih bingung.

                “Kamu sudah seminggu pingsan di rumah sakit. Kemarin saat ingin menjenguk temanku yang sakit, aku melihatmu kotor dan hampir tersungkur jatuh di lantai di lorong rumah sakit ini.” Jelas Kak Lato.

                “Apa! Seminggu.” Sambil menggenggam pinggangku yang nyeri di bagian sebelah kanan, aku memaki.

                Esoknya aku sudah diperbolehkan pulang. Tapi kepulanganku ini lagi-lagi membawa duka lara. Karena remuk tertabrak di saat kecelakaan itu, ginjalku yang di bagian kanan terpaksa di ambil oleh Dokter. Terpaksa aku harus hidup dengan satu ginjal saja untuk beraktivitas. Kak Lato yang mendengarkan tragedi yang aku ceritakan semakin menggila menjadi-jadi. Tidak terima adiknya disakiti.

                “Udah putusin aja tu si Light, dasar nggak tau diri.” Kak Lato mengumpat.

Surat Kedua: Tuhan, tolong sampaikan!

Surat Kedua
Tuhan, tolong sampaikan!

Lita temanku SMA yang badannya sehat-sehat saja tidak mungkin mati semudah ini. Aku sungguh tidak habis pikir apa yang dipikirkan Tuhan. Usianya yang kini masih 20 tahun sama sepertiku tiba-tiba menghembuskan nafas terakhirnya dalam koma. Dikabarkan bahwa temanku Lita mengalami koma selama dua hari karena tumor ginjal yang menderunya. Bagaimana bisa!

                “Kamu serius San!” Tanyaku memastikan kembali.

                “Iya, serius. Rencananya pagi ini pukul 10.00 dia mau dikebumikan sama keluarganya Na.” Sania me3njawab dengan pasti.

                Setelah mendengar kabar duka itu, tangisku semakin menggebu-gebu. Mengalir tiada henti karena menyesali. Kenapa aku bisa menyerah dengan semudah ini, sedangkan temanku yang dari awal baik-baik saja, kini telah dikebumikan karena diagnosa tumor ginjal yang baru diketahuinya. Tuhan, maafkan aku yang tidak mensyukuri nikmatmu. Terima kasih telah menguatrkanku kembali Tuhan. Mulai detik ini, aku akan berusaha untuk terus hidup meskipun segalanya tidak sejalan dengan keinginanku.

                “Maaf San, hari ini aku sedang sakit dan baru pulang dari rumah sakit. Jadi aku belum bisa hadir ke pemakamannya Lita, besok akan aku usahakan. Salam buat keluarganya ya San.” Aku mengakhiri pembicaraanku kepada Sania di dalam telepon.

                Untuk Lita temanku tercinta, semoga kamu di sana diterima di sisi-Nya ya. Dijauhkan dari siksa kubur-Nya dan selalu diberi nikmat akan surge-Nya. Aamiin, yang hanya bisa kulakukan hanya mendoakannya dari sini. Maklum, aku masih tersungkur di dalam kasur dengan keadaan yang masih lemah tak berdaya. Tapi, meskipun begitu berkat apa yang telah terjadi hari ini, aku mulai bangkit kembali. Menjalani hari yang teramat berarti dan tidak akan kusia-siakan lagi. Demi aku dan perubahan di masa depan nanti.

                Beberapa hari dari kesembuhanku, aku akhirnya bisa melanjutkan aktivitas untuk kembali berpetualang ilmu di dunia kuliah ini. Meskipun belum sembuh total, tapi mau nggak mau harus tetap kutapakki. Tangga demi tangga untuk masuk ke ruang kuliah ini sungguh menguji nyali. Napasku yang masih ngos-ngossan mencoba untuk melangkah sejengkal lagi, untuk sampai pada ujung tangga yang akhirnya berpijak pada lantai yang datar.

                “Oh, sssht. Kelasnya masih di lantai tiga.” Kataku memaki, sambil mendongakkan tangga-tangga yang masih menanjak rapi,.

                Aku duduk terdiam, di lantai dua yang berhasil kutapakki terdapat bangku untuk mengistirahatkan tubuhku sebentar. Maklum, tidak ada lift atau elevator di fakultasku ini. Karena terkenal dengan ketuannya, bangunan ini terlihat besar dan masih tampil apa adanya. Jadi, wajar saja kalau tidak ada liftnya. Sambil mengatur nafas, aku masih melihat arah tangga yang menjulang tinggi,  rintangan yang harus kuhadapi. Madding yang kusenderi, seperti sedang menghina dan menertawaiku yang kian begitu lemah ini. Aku menunnduk sebentar, mengambil ancang-ancang dan memfokuskan pikiran.

                “Mau minum.” Tiba-tiba terdengar suara pria yang menyodorkan sebotol air mineral di depanku.

                “Mmm.” Sambil mendongakkan kepala aku tersenyum.

                Setelah meneguk beberapa ion air-air di dalam botol ini aku merasa lega. Dia yang saat ini duduk di sampingku, tersenyum memperhatikanku. Sambil menoleh ke arahnya, aku menyodorkan botolnya kembali.

                “Kenapa kamu di sini?” Tanyaku dengan sewot.

                “Kamu anak fakultas mana bang, kok bisa nyasar sampai sini!” Tambahku sambil melotot.

                Dia masih tersenyum memandangiku, melihatku dengan penuh sayang dan begitu ingin menjaga. Begitu ingin melindungi tubuh yang tengah rapuh ini.

                “Sini tasnya aku bawakan.” Jawabnya sambil menyerobot tas ranselku.

                Tas ransel yang kubawa dirangkulkan di depan dadanya. Setelah itu, tiba-tiba dia bangkit dari bangku dan jongkok di bawahku.

                “Kenapa?” Tanyaku kepadanya.

                “Sini aku gendhong.” Katanya sambil menoleh ke arahku.

Surat Pertama: Tuhan, tolong sampaikan!

Surat Pertama 
Tuhan, tolong sampaikan!

                Diam meringkuk dalam dingin yang menusuk. Aku membatu menyerah pada takdir yang sudah digariskan untukku. Harus kutulis apa cerita kali ini, tangan yang begitu mengigil kupaksa untuk menulis rentetan dari kisahku sebelum ajal menjemput. Sungguh kasihan sekali tubuh mungil ini, terpaku dalam keputus asaan yang terus membelenggu di ruang  berbau busuk ini.

                Gemetaran yang  begitu menggebu, sesaknya mulut yang terus menghantuiku. Dijejali obat-obatan yang katanya akan menjadi penyelamat bagi mereka yang tidak mampu. Aku masih terbaring dalam kasur , menangis dalam hati meratapi kisah ini yang tak pernah berhenti. Menyiksa dan terus menyiksa. Aku iri pada manusia di bumi yang katanya hidup itu gratis. Tidak dipungut biaya apapun, bisa menikmati fasilitas yang diberikan Tuhan tanpa perlu mengantri dan dapat mengambil sepuas yang mereka mau.

                Tapi tidak denganku, aku terus mengemis pada alam dan terus berbicara kepada Tuhan untuk bisa mengubah takdirku. Sungguh tersiksa  Ya Tuhan, kenapa Engkau ciptakan makhluk yang spesial ini untuk diturunkan ke dunia-Mu. Bukankah aku produk gagal yang tidak layak untuk menjadi penduduk bumi, apa yang sesungguhnya Engkau rencanakan Ya Tuhan. Sejak lahir aku diciptakan sakit dan terus membebani orang-orang sekitarku.

                “Leina sayang,, hari ini kamu sudah boleh pulang. Apa kamu bahagia?” Katanya sambil tersenyum.

                “Hmm, aku bahagia. Mungkin!” Jawabku kepadanya.

                Ya, mungkin aku bisa bahagia jika sakitku ini bisa dihapuskan Tuhan di dalam sisa hidupku. Karena aku sudah begitu lelah dengan diriku yang tidak berarti.

“Jangan begitu, masih ada aku yang menyayangimu. Kakakmu ini, aku berjanji akan selalu menjagamu.” Lanjutnya mencoba menghiburku.

                “Hei, Kak  Lato sayang. Tapi kamu tidak mengerti perasaanku.” Jawabku dengan lirih.

                 Meskipun sudah pulang, rasanya masih tetap saja di rumah sakit. Badan yang gemetaran, sampai seluruh tulangku sakit semua. Nafas yang tak beraturan, tidak bisa seperti mereka yang bisa mengirup oksigen semaunya. Ya, fasilitas dari Tuhan yang diberikan kepada makhluk-Nya. Sedangkan aku, butuh usaha keras untuk menikmati oksigen ini, oksigen yang dikeluarkan dari alam yang murni. Tanpa bantuan dari selang-selang yang selama ini kuhirup setiap kali aku berada di rumah sakit, aku tidak mungkin akan bisa hidup. Ya Tuhan, aku sudah tak sanggup, memikul beban yang Engkau anugerahkan ini. Aku terisak, menangis di dalam kamarku. Sendirian, tidak bisa dipungkiri karena sakitku ini, aku bisa menyerah dengan pasti.

                Asma, penyakit yang dinamakan gangguan pada pernafasaan ini membuatku tidak bisa menikmati udaranya Tuhan. Setiap kali kedinginan, setiap kali merasa lelah dan setiap kali aku dipenuhi banyak beban pikiran, asma selalu ingin merenggut kebahagiaanku. Katanya orang, kalau begitu jangan banyak berpikir dan kalau lelah berhenti lalu istirahatlah. Tapi dunia tidak seindah omongan orang yang gampang memberi saran tapi tidak mudah diterapkan. Hidup itu kejam, setiap manusia yang hidup pasti akan dibekali masalah. Bukankah masalah juga akan menimbulkan banyak pikiran, melelahkan setiap jiwa dan raga. Nah, jadi bagaimana bisa untuk tidak dipikir dan tidak diselesaikan.

                “Assalamualaikum Na, kamu hari ini mau ngelayat ke rumah Lita nggak?” Terdengar suara dari sebuah telepon seluler yang kugenggam ini.

                “Waalaikumsalam, hlo memangnya siapa yang meninggal? Bapaknya apa Ibunya Lita San.” Tanyaku kepada Sania untuk memastikan.

                “Bukan Na, tapi Lita yang meninggal.” Katanya dengan terus terang.

                “Apa!” Aku kaget nggak kepalang.

Keyakinan yang Mungkin Berarti

Aku sudah tak ragu-ragu lagi. Kumulai menggoreskan tinta dalam pena ini. Kutulis semua yang telah kualami si sebuah kertas kosong ini. Sedikit demi sedikit mulai terisi berbagai huruf eksotik hasil karya tanganku. Mulai sekarang hanya kau satu-satunya yang mampu mengertiku, memahami semua isi hatiku. Ya… hanya kau. Selain dirimu, aku sudah tak percaya lagi kepada siapapun dan apapun yang ada di dunia ini. Ya… hanya tinta dan penaku ini, dan kekasihnya yang selalu ada untuknya. Siapa lagi kalau bukan kertas, yang selalu ikhlas menerima noda demi noda di tubuhnya.

Andai kertas bisa bicara, akan kuceritakan semua tanpa harus mengotorimu. Dan andai kalian punya mulut, kan kuajak bicara tuk mencari solusi dari semua masalah-masalahku. Kalian memang cinta sejati, dan sekaligus akan menjadi teman  sejatiku yang tak tergantikan. Jadi, sebelum aku menemukan teman hidupku, izinkan aku untuk meminjam segala kekuatanmu utnuk mengantikannya sebagai teman curhatku. Meskipun tak bisa bicara, namun aku lebih mempercayaimu, dan aku yakin, kalian punya jiwa yang dapat mendengarku. Dapat merasakan sesuatu dalam diriku.

Meskipun tak bisa kuaandalkan, tapi kau selalu mendukungku. Meskipun tak  mampu memberi solusi, tapi setidaknya kau bukan orang lain, makhluk yang tak bisa kupercaya. Kau selalu menjaga rahasiaku, maka dari itu aku selalu percaya kepadamu. Terima kasih… telah menjadi pendampingku.

Kali ini aku bercerita kembali pada belembar kertas putih ini, kucoret dan kurangkai kembali. Gorensan ini tentang waktu dan takdir di antara kita.

Tak ada seorangpun yang mampu menyembuhkan hati ini. Hanya kau seorang yang kuizinkan untuk melukai dan meyembuhkan hatiku. Bukankah orang yang melukai seseorang juga harus menyembuhkannya. Tak mudah untuk mengisi kekosongan jiwa ini kembali. Di balik dinginnya malam ini, kunikmati lantunan gitar yang mereka petik dengan jari – jari tangannya. Mengingatkanku pada sosokmu, sosok yang kuharapkan bisa menemaniku disini.

“Ah, hujan…” Air mata langitpun telah menetes satu persatu, letih telah menemaniku dengan sejuta harapan yang tak mungkin akan ada. Aku tau bahwa kita saling mencintai, namun kita hanya saling termenung dalam diam. Dimana kita tidak bisa saling mengungkapkan. Sejauh ini tak mampu melangkah sedikitpun. Bahkan mengucapkan salam perpisahanpun tak bisa. Perih hati ini menunggu, menunggu keajaiban akan datang. Raga ini terus bertahan dan betahan. Bertahan tak lagi disampinmu. Air mataku telah kering terkuras, telah kuhabiskan untuk selalu menangisimu. Aku tak mampu untuk bersabar lagi, hati ini semakin memberontak kesakitan.

Namun apa daya, apa yang bisa aku lakukan. Hanya terdiam dalam angan – angan yang kusam. Tak mampu aku berpijak, tak mampu aku berdiri kokoh seperti dulu lagi. Tak ada lagi yang bisa menompangku, penyemangatku telah hilang. Aku bagaikan tanaman yang tak disiram, tanpamu aku layu. Sejutas khayalan telah membutakanku, kau meracuni pikiranku. Membuatku semakin berharap, berharap kau disini, berharap kau mau bicara, dan terlebih lagi berharap sekali kau kembali. Untuk menyembuhkan kekosongan jiwa yang sempat kau lukai.

Bukankah kamu ingat cerita waktu itu yang membuatku luka, aku terbakar asmara tapi kamu malah hilang. Tanpa pamit dan tak sepeser katapun kamu ucapkan untuk diriku ini yang kau tinggal pergi. Aku yang mengharapkanmu kembali, merindukanmu sepanjang waktu tak usai untuk ingin bertemu. Setelah beberapa bulan yang lalu, ternyata kamu menghubungiku.

Membawa kabar gembira yang mampu memaafkanmu sampai detik ini. Kamu mengirimkan sepucuk surat untukku bahwa kamu baik-baik saja. Sedang sibuk dan tentunya ternyata kamu masih mencintaiku. Aku bersyukur sekali, lain waktu jangan diulangi ya sayang. Surat ini kutitipkan kepadanya untuk diberikan untukkmu.

Pena yang selalu saja bergoyang , menimbulkan semua cerita ini yang telah kusampaikan kepada selembar kertas yang tak berbunyi. Sebagai tanda rasa tulusku kepadamu, aku mengirimkan perasaanku ini untukmu yang jauh di sana dan sedang mengejar cita-cita. Hubungan kita memang tidak bisa sedekat orang pacaran seperti biasanya. Tidak bisa seromantis dan tidak bisa jalan bersama.

Pena yang selalu saja bergoyang , menimbulkan semua cerita ini yang telah kusampaikan kepada selembar kertas yang tak berbunyi. Sebagai tanda rasa tulusku kepadamu, aku mengirimkan perasaanku ini untukmu yang jauh di sana dan sedang mengejar cita-cita. Hubungan kita memang tidak bisa sedekat orang pacaran seperti biasanya. Tidak bisa seromantis dan tidak bisa jalan bersama.

Karena untuk saat ini sudah bukan waktunya lagi untuk main-main. Aku menginginkamu dan kamu ingin memiliku bukan. Setiap doa dalam kalimatku ini selalu ada kamu yang paling aku banggakan. Sesulit apapun masalahmu yang di sana, pasti ada jalan keluarnya. Jadi, jangan menyerah sampai kita dipersatukan kembali. Aku sayang kamu di sini.

Kamu yang sedang S2 di sana, aku masih setia dan selalu menjaga hati yang kurasa. Sampai kita bertemu lagi di ujung takdir yang menjerat kita dalam suatu ikatan pasti yang biasanya di sebut orang dengan kata menikah. Aku berjalan dan membawa sepucuk surat ini kepada Pak Pos, kukirimkan dan kusampaikan rasa hatiku ini yang teramat dalam kepadamu sayang.

Kutunggu surat balasanmu. Tertanda, “Dariku kekasihmu yang mencintaimu dengan tulus.”

Korban Cinta

Hai, perkenalkan namaku adalah Hancur. Hancur karena semua cerita yang menyeretku pada kehancuran. Tapi di sini aku berperan bukan sebagai tokoh utamanya, meskipun aku korban tapi merekalah yang akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini.

Sebut saja pria ini namanya Alfa dan untuk wanita ini sebut saja namanya Beta. Mereka berdua adalah sahabat seperjuangan, mereka sebaya dan kisah ini begitu menggembirakan bagi mereka berdua. Sedangkan aku yang sebagai korban, hancur dan telalu remuk yang teramat dalam.

Alfa yang cinta pada pandangan pertama terhadapku mulai berani mendekatiku. Tentunya berani mendekati melewai Beta sahabatnya yang sekarang berteman denganku. Kami berteman karena suatu takdir yang tak sengaja mempertemukan. Alfa yang mencari informasi tentangku selalu minta bala bantuan kepada Beta.

Karena mereka sahabat, Beta selalu bersedia membantunya baik dalam keadaan suka maupun bahagia. Sedangkan aku yang tak tau apa-apa dan terkenal dengan keangkuhannya menjadi sulit ditaklukkan. Alfa yang hanya fokus pada diriku tidak sadar bahwa sesungguhnya Beta mencintainya. Beta rela berkorban untuknya demi untuk mendekatiku.

Alfa yang tidak tau kelemahnku, akhirnyapun menyerah. Beta masih di sisinya dan meskipun aku dan Alfa sudah jauh. Beta selalu memberi tahu keadaanku melalui statusku. Begitupun dengan aku yang tau keadaan Alfa melalui statusnya Beta.

Tapi semua itu ternyata telah berhasil menghancurkanku. Tentang kedekatannya yang semakin terlihat di statusnya Beta. Telah kutelusuri lebih jauh ternyata Alfa akhirnya pacaran dengan Beta sahabatnya sendiri. Duuh bahagianya…

Sedangkan aku, yang sudah mulai mencintainya harus hancur berkeping-keping. Aku Hancur dalam kehancuran yang teramat menyakitkan, kepercayaanku terhadap pria sudah sampai 5% persen sampai detik ini.

Selamat berbahagia ya, Alfa dan Beta sahabat yang bisa dipersatukan karena aku.

Aku Pulang

            Hari ini, semua orang telah mendeklarasikan tentang kepulanganmu. Surat pemberitahuan telah terpampang di papan pengumuman negara ini. Aku yang menanti kepulanganmu, sungguh bahagia sekali. Berharap dapat memelukmu, menciummu, mengucapkan selamat datang kembali di rumah.

               Pagi ini aku sengaja tidak pergi kemanapun agar kamu tau arah jalan mana yang akan kamu tuju setelah usai dengan urusanmu itu. Rindu yang menggebu inginkan dirimu kembali ke sisiku, khayalanku ingin sekali bertemu denganmu. Berbicara tentang apapun yang kamu inginkan dan aku akan dengarkan.

               Waktu demi waktu kutapaki detik jam ini untuk menunggumu. Tahun ini adalah tahun pertama kamu pulang ke dalam kenanganmu. Kenanganmu bersamaku saat itu yang tak pernah terlupakan oleh bumi pertiwi ini. Langit menjadi saksi tentang cerita di waktu itu, negara yang kau tapakki ini menjadi bekas jejakmu bahwa kamu pernah menetap di sini.

               Bukankah akan senang sekali jika kamu akan mampir untuk minum kopi sebentar menemaniku di sini. Meskipun aku tau bahwa urusanmu di negara itu belum usai, tolong. Sebentar saja sayang. Aku merindukanmu, aku ingin sekali melihat senyummu, aku ingin sekali mendengar suaramu.

               Pukul 10.30 jam berdenting, mengerti bahwa kehadiranmu sudah mulai terlihat di mataku. Aku pikir setelah bertemu denganku kamu akan mengatakan bahwa “Aku pulang!” Ternyata tidak, kamu hanya lewat dan mengabaikanku. Memang benar rumah adalah tempat dimana para penguhinanya akan pulang ke sisinya. Tapi ternyata, aku bukan rumahmu.

               Kamu pergi dan hilang kembali bagai bui. Ternyata aku bukan rumah untukmu, tapi kenapa rumah ini selalu mengharapkanmu! Tuhan, tolong katakan sesuatu, aku ini sesungguhnya kenapa?

Apa Ini!

 Apa ini!
 Oleh: Siri Gachi
  
 Sesak, nafas yang ingin beradu
 Tegang, tubuh yang mulai membeku
 Diam, lidah yang mulai kelu 
 Lihat, sepasang mata yang mulai menatap
  
 Begitu lama sampai saling terbuai
 Begitu indah saat dipandang, oh aduhai...
 Berdecit suara angin yang menjadi saksi
 Waktu terdiam dan sejenak berhenti
  
 Merah, seperti tomat yang baru dipetik
 Pipi yang merona tak mampu berkutik
 Semakin dekat dan semakin menelisik
 Aliran darah yang semakin beku menukik
  
 Merunduk, mencoba yang belum pernah di rasa
 Semakin dekat dan semakin mencekat tiada tara
 Seribu diam tiada kata, seribu tatap penuh makna
 Sedikit lagi, sedikit lagi, tinggal sedikit lagi...
  
 Menyentuh dan tak ingin terlepas
 Bola mata yang penuh binar merasa puas
 Sungguh bajingan yang tak pantas
 Karena keduanya merasa ingin pas
 Bukankah itu ciuman yang panas
  
 Peringatan!
 Puisi hanya boleh di baca untuk manusia dengan umur 18+ 

Aku dan Kamu

 Aku dan Kamu
 Oleh: Siri Gachi
  
 Anganmu yang ingin memilikiku begitu murni
 Kelak pasti akan terjadi dalam cita-citamu ini
 Untukmu yang selalu berjuang sampai kini
  
 Deru cinta ini tidak akan pernah mati
 Aku selalu menunggumu di sini
 Nanti jika waktu yang sudah lelah berhenti
  
 Kita akan dipersatukan kembali
 Aku dan kamu yang sudah siap pasti
 Mengikat cinta suci dalam hidup ini
 Untukmu kekasihku yang ada di sana
  
 Cintailah aku meskipun jarak masih menentang
 Izinkan aku untuk menanti meskipun waktu masih merencanakan
 Nikmat itu pasti, karena takdir akan mempersatukan
 Tanpamu doaku akan selalu kudendangkan
 Alunan syahdu dari ayat-ayatMu akan selalu kukumandangkan
  
 Sajak ini kuciptakan hanya untukmu yang aku mau
 Esok akan datang, membawa pagi yang cerah
 Jangan pernah menyerah sayang, aku selalu di sisimu
 Aku selalu ada dalam hati dan pikirmu
 Tinggal sejengkal lagi kamu akan berhasil mendapatkanku
 Indahnya cinta sejati itu... adalah nikmatnya proses dalam setiap perjuanganmu 

Mencintaimu

 Mencintaimu
 Oleh: Siri Gachi
  
 Mencintaimu adalah hal yang terberat dalam hidupku
 Meninggalkanmu adalah hal yang membuatku mati setengah nyawaku
 Karena kamu adalah separuh jiwaku
 Meskipun kamu tak pernah mengerti
 Tak apa, mungkin hal itu hanya kamu anggap tak berarti
  
 Kamu, taukah kalau langit dan dasar laut itu jauh berbeda
 Jika aku dasar laut dan kamu langit, apa yang kamu pikirkan!
 Aku yang tempatnya kegelapan, dan kamu adalah tempatnya cahaya
 Lalu, apa yang kamu rasakan
 Jika kamu jadi aku, apa yang engkau pahami tentang aku
  
 Kesakitan, kesedihan, kerapuhan, kepedihan
 Semua rasa itu adalah temanku sejak lama
 Lalu, bagaimana dengamu jika kamu bersamaku
 Kamu tidak akan bahagia, karena duniaku berbeda
 Duniaku bukanlah duniamu yang bersinar itu
  
 Bahkan sinarmu tak mampu menembus duniaku 
 Nah, jadi bagaimana!
 Aku mencintaimu dalam diam
 Namun aku tidak bisa mendekatimu 
 Nanti aku bisa membahayakan
 Membawamu dalam jurang yang kelam
  
 Aku hanya ingin orangku tersayang tidak sepertiku
 Aku hanya ingin orangku ini, tidak kubebani
 Aku di sini mencintaimu sepenuh hati
 Terima kasih, aku bersyukur kamu telah hidup di bumi 

Salahkah!

Salahkah!
Oleh : Siri Gachi

 Waktu menukik begitu cepat
 Alam memelukku begitu erat
 Angin mengikatku begitu lekat
 Terkurung dalam bui yang begitu rekat
  
 Tenggelam dalam gelap yang begitu pekat
 Sesak, dipenuh gas yang beracun berat
 Laut menderu menghantamku
 Kenapa dunia begitu membenciku
  
 Aku seonggok burung yang merindukan bulan
 Tak tau diri dan hanya sebatas angan
 Mengingikanmu yang tak mungkin terkabulkan
 Memikirkanmu yang membuatku semakin tak karuan
  
 Hariku habis mengkhayalkanmu
 Tersesat dalam indahnya jelmaanmu
 Meskipun ku tau hanya bayangmu
 Hinggap dalam otak dan kalbuku
  
 Dalam sajak aku bernyanyi
 Merindu memanggil namamu
 Hei, bolehkan aku bertanya sesuatu!
 Salahkah jika aku terlalu mencintaimu! 

Taman Bunga Celosia Bandungan

Rutinitas yang padat memang banyak menyita waktu dan pikiran. Salah satu obat penyegar pikiran biasanya pilihan yang paling banyak diminati orang adalah istirahat dan hiburan. Taman Bunga Celosia Bandungan merupakan salah satu tempat wisata di daerah Bandungan yang cocok digunakan sebagai hiburan, baik untuk keluarga atau untuk teman-teman. Selain banyak diminati pengunjung, taman bunga celosia merupakan tempat wisata yang menyuguhkan mata dengan beraneka ragam bunga.

Taman Bunga Celosia Bandungan yang letaknya berada di kaki Gunung Ungaran memang memiliki cuaca yang sejuk sehingga banyak macam bunga yang dapat tumbuh di kawasan tersebut. Meskipun masih termasuk wilayah Semarang, wisata ini memiliki view yang cocok untuk memanjakan mata dari hawa metropolitan yang isinya hanya gedung, rumah dan trasnportasi. Adapun bandungan sendiri terletak di daerah Kota Ungaran yaitu kotanya Kabupaten Semarang.

 undefined

Sebagai tempat spot foto, Taman Bunga Celosia menjadi banyak incaran para anak muda di jaman sekarang. Mulai dari awal pintu masuk, sudah disuguhkan dengan berbagai macam warna warni bunga yang ditata rapi di dalam pot-pot mungil yang telah digantungkan di setiap lorong jalan untuk menuju titik pusat taman bunga Celosia. Tentunya terdapat bunga celosia yang bermekaran di sekitarnya sesuai dengan nama digunakan untuk memberi nama tempat tersebut. Ketika sampai pada ujung lorong, mata pengunjung akan segera disuguhkan dengan hamparan luas padang rumput yand ditumbuhi bunga dengan berbagai macam replika bangunan dari beberapa negara.

Selain untuk anak muda, tempat wisata ini sangat disarankan bagi penggila fotografi. Banyak sekali spot yang tidak dapat ditemui di negara asal kita. Seperti menara eifel, rumah disney, patung merlion dan masih banyak lagi spot-spot yang menarik untuk dinikmati. Terdapat beberapa kincir angin berukuran yang siap menyapa di setiap hamparan bunga Taman Celosia ini.

Tertarik, adapun rute atau lokasi Taman Bunga Celosia Bandungan terletak di Jl. Wisata Gedong Songo Km 05, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Taman Bunga Celosia ini memang memiliki rute yang sama dengan wisata Gedong Songo. Jika ingin mampir, bangungan memang rajanya tempat wisata karena memiliki segudang tempat yang menarik untuk dikunjungi. Adapun rute awal kalian bisa menemui tempat wisata Taman Bunga Celosia, jika ingin lebih penasaran, naiklah ke rute selanjutnya. Tempat wisata lain akan menunggu kalian sampai pada ujung rutenya. Selamat menikmati!

Hujan Kenangan

Dingin yang menusuk kalbu
Bayangmu yang telah usang kini menjadi debu
aromamu yang penuh pilu
Masih terbayang dalam ingatanku
Hati yang telah padam
Masih membawa beban sejuta kenangan 

Terus menetes meringik kesakitan
Terbuka perlahan dan terus menghujam dalam diam
terbayang wajahmu, senyummu yang tak pernah pudar
Meski hujan menyapu di kala sibuknya kegiatan

Masih saja terngiang cerita di masa lalu
Yang tak pernah bisa lupa
Terbungkus dalam kenangan luka
Aku yang meringkuk dalam kegelapan
Menunggu cahaya yang tak akan menyakiti 

Menjaga semuanya agar tetap utuh namun masih bisa tumbuh
Dalam cerita masa depan
Semoga lebih indah dalam kenangan yang menyenangkan
Aku, kamu dan kenangan akan menjadi satu
Kesedihan akan berganti menjadi kebahagiaan sejati

Meskipun hal ini mungkin hanya mimpi 
Tak apa akan kucoba mengerti
Di dalam dunia yang gelap dan sepi
Di sini ku selalu menanti

Bersyukur Hari Ini

“Alhamdulillah!” Kudengar ucapan sahabatku yang begitu tulus.

               Kalimat yang diucapkan sahabatku ini sungguh mengharukan. Ceritanya aku yang menemani dia tidur di kosnya sendirian. Karena teman sekamarnya balik, jadi aku nginep deh di kosnya. Sebelum dia tidur dia berceloteh dulu di sampingku. Dia merasa bahwa kejadian yang selama ini menimpa dia merupakan sebuah keindahan yang sengaja ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa.

               Anehnya lagi, temanku ini meskipun dalam masalah apapun, orangnya selalu ceria tak pernah padam semangatnya. Apalagi jomblonya yang permanen itu yang membuatku kagum, meskipun dia friendly terhadap semua orang. Tapi dia tetap menjaga dirinya agar tetap aman. Sampai suatu hari aku sempat bertanya hal apa yang selalu membuatnya nyaman dalam status jomblonya. Kemudian jawaban apa yang diberikan sahabatku ini! Jawabannya sungguh sangat mengejutkan.

               “Aku bersyukur karena selama ini aku tidak pernah percaya sama laki-laki.” Katanya dengan enteng.

               Sejak mulai itu aku merasa bahwa sahabatku ini memang unik. Selain sikapnya yang friendly terhadap siapapun, dia juga sangat baik kepada siapapun. Siapapun yang minta bantuan darinya, selalu dia tolong. Entah itu laki-laki ataupun wanita, muda ataupun tua, selalu dia bantu. Bahkan dia selalu mengutamakan kepentingan orang lain, daripada kepentingan pribadinya. Sikapnya itu lah yang membuat para manusia di dunia ini mampu memanfaatkannya dengan gampang. Sampai aku sempat bertanya kepada dia kenapa dia selalu baik kepada semua orang.

               “Soalnya kalau ada yang minta tolong, aku orangnya nggak bisa nolak.” Katanya dengan polos.

               Terlalu baik bukan, sikapnya yang tidak enakan itulah yang membuat dirinya terjerumus ke dalam jurang permasalahan. Sampai pada malam ini tiba, malam yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa dia bergitu gembira dan mengucapkan syukur dengan sangat antusias. Setelah kubertanya kenapa, akhirnya dia mulai menganga membuka mulut untuk bercerita. Becerita tentang ketidakpercayaan yang mengantarkan dia pada rasa syukur yang teramat nikmat.

               Rasa tidak percaya terhadap laki-laki yang membuatnya selama ini menjadi jomblo. Dahulu dia pernah dekat dengan seorang laki-laki. Selama tiga bulan mereka melakukan pendekatan, namun kata sahabatku sepertinya ada yang ganjal dalam hubungan itu. Entah itu apa tapi sahabatku memiliki firasat buruk tentang dia si laki-laki yang saat itu telah berhasil menaklukkan hatinya. Firasat itu yang pada akhirnya mengatarkan sahabatku untuk pergi darinya. Setelah beberapa minggu pergi, ternyata firasat itu memang benar terjadi. Banyak teman-teman dia termasuk aku yang memergoki dia jalan dengan wanita lain. Bukan hanya sekedar wantia lain, namun melainkan wanita-wanita lain yang berbeda setiap dia jalan. Kalau diibaratkan gebetannya banyak gitu.

               Bukan hanya aku dan teman-temannya, tapi ternyata dia juga pernah sekali melihat laki-laki yang dicintainya jalan dengan wanita lain. Dia besyukur karena meskipun hatinya telah takluk, tapi dia tidak mudah percaya begitu saja. Akhirnya Yang Kuasa membongkar semua, dan sahabatku itu mengucapkan Alhamdulillah. Memang benar bahwa laki-laki itu punya kuasa untuk memilih, dan wanita hanya punya kuasa untuk dipilih namun masih bisa memutuskan kehendaknya. Tapi jika laki-laki yang terlalu banyak wanitanya untuk dicoba satu persatu, apakah suatu saat nanti jika sudah menemukan yang pas, wanita itu akan bisa percaya padanya. Enggak bukan, makanya benar sahabatku ini memutuskan untuk pergi saja dari hidupnya.

               Kemudian dia cerita lagi, bahwa beberapa bulan ini dia sedang didekati oleh teman laki-lakinya. Mereka berdua sudah jalan bareng, makan bareng, nonton bareng. Sepertinya juga laki-laki yang baik, karena selalu perhatian. Saking perhatiannya setiap hari selalu ngechat sahabatku ini, kadang juga telfon atau video call sahabatku ini. Karena sahabatku ini orangnya baik dan tidak enakan, takut orang marah karenanya maka dia ladeni laki-laki itu. Meskipun kelemahannya yang terlalu baik, tapi kekuatan ketidakpercayaannya itu terhadap laki-laki menyelamatkannya.

               Meskipun sudah dekat, tapi dengan tidak percaya maka sahabatku ini hanya menganggap laki-laki itu hanya temannya saja. Dia tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap teman laki-lakinya. Sampai malam ini, rasa tidak percayanya itu terhadap laki-laki membuahkan hasil. Dia bertemu dengan laki-laki itu bersama wanita lain dan mendapat info dari teman-teman sekitar bahwa mereka sudah pacaran sejak lama. Bagaimana sikap sahabatku ini, lagi-lagi sambil tersenyum dia mengucapkan Alhamdulillah kepada Yang Maha Esa.

               Sampai aku sempat berpikir, “Kamu itu terlalu baik apa goblok sih Sa.” Aku memakinya.

               Mungkin kalau masalah itu yang terjadi kepadaku, aku sudah benci tuh orang. Tapi kamu tetap saja masih bisa memaafkan, masih tampak bahagia dan semakin tambah besyukur. Ah sudahlah! Meskipun begitu dia tetap sahabatku tercinta, apapun yang terjadi aku akan selalu dipihakmu. Bersyukur boleh, tidak percaya terhadap orang lain boleh, bersikap baikpun juga boleh. Namun juga baiknya itu berlebihan bukankah hal itu juga akan merugikan diri sendiri. Jadi, jangan ditiru ya.

               Teruntuk laki-laki di dunia ini, mohon maaf jika menyinggung. Tapi penulis percaya bahwa meskipun banyak laki-laki jahat, tapi banyak juga laki-laki yang baik di dunia ini. Termasuk semua laki-laki yang membaca cerita ini adalah golongan laki-laki yang baik. Aamiin.

               Bukan hanya sekedar laki-laki saja, wanita yang jahat di dunia ini juga banyak, yang baikpun juga banyak. Tapi sebenarnya mungkin tidak ada laki-laki atau wanita yang jahat, hanya saja mungkin mereka sedang salah jalan. Untuk kalian dan mungkin diriku yang salah jalan, semoga diluruskan kembali oleh yang Maha Kuasa.

               Hal terakhir yang ingin kuucapkan dari cerita sahabatku ini, “Alhamdulillah aku selalu dalam perlindungan-Nya.” Aku bersyukur untuk hari ini, selamat tidur kawan.

Temanku Hebat

Temanku ini hebat sekali, dia sejak lahir diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan yang istimewa. Beda dari yang lain, bukan wanita normal namun sungguh sangat istimewa. Karena dia istimewa banyak orang yang sekali kenal, maka mereka akan langsung tertarik. Banyak yang mengaguminya secara diam-diam, banyak juga yang menyayangi dirinya.

Wanita yang mungkin sampai sekarang bercita-cita ingin hidupnya normal tapi tidak semudah itu untuk bisa mewujudkannya. Dia harus berpura-pura agar mereka tidak sadar apa yang dideritanya. Tuhan yang sudah menciptakan dia sakit sejak lahir, menjadikan dirinya memiliki banyak kelemahan. Terkadang banyak orang-orang di sekitarnya yang selalu mengawasi dan melarang dia untuk melakukan sesuatu yang dia suka.

“Jangan makan es, jangan makan ciki, jangan hujan-hujanan, jangan capek-capek kalau bermain, jangan banyak pikiran.” Kata mulut-mulut mereka yang menghujam temanku ini.

Semuanya yang serba jangan membuat temanku menjadi minder dan khawatiran, meskipun hal tersebut demi kesembuhan dari penyakitnya tapi ternyata hal itu menyakitkan bagi dirinya. Banyak larangan yang tidak boleh dia lakukan di masa kecilnya, mungkin sampai sekarangpun masih. Dia yang ingin menjadi normal, ternyata tidak bisa bebas seperti teman-temannya masa kecil yang bebas bermain apa yang mereka suka. Meskipun sudah banyak larangan, ternyata penyakitnyapun tak kunjung sembuh. Masih tetap sama, menetap dalam tubuhnya. Semua iming-iming dari orang tua, para dokter dan orang-orang di sekitarnya hanyalah kebohongan semata.

“Jangan makan ini, jangan makan itu, jangan lupa obatnya diminum rutin, jangan ini dan jangan itu dan blablabla.” Mereka selalu berkata seperti itu.

Meskipun sudah dituruti tapi kenyataannya juga tidak kunjung sembuh. Pada akhirnya temanku ini tidak bisa percaya akan ucapan mereka. Mereka hanya bisanya melarang dan menuntut dengan alasan demi kesembuhan temanku ini. Mereka tidak pernah bisa merasakan perasaanya, mereta tidak pernah bisa mengerti dirinya, mereka yang tidak pernah ditemani rasa sakit yang begitu pekat, tidak tau apa-apa tentang dirinya. Temanku ini semakin terluka di balik tawa palsunya, merasa kecewa dan terkadang membenci dirinya.

Melihat teman-temannya berlari hilir mudik, bermain panas-panas membuat temanku ini juga merasa iri. Dia hanya bisa melihat dan tidak bisa ikut bermain, hanya bisa memandang senyum canda tawa mereka dari kejauhan. Sedangkan temanku ini sendirian, sendirian dalam kesengsaraan. Ketika dia menginjak bangku sekolah dasar, lagi-lagi terjadi kembali. Larangan yang serba-serbi yang dilontarkan. Baik dari orag tua, guru dan teman-teman SDnya. Waktu itu lomba olahraga untuk SD tingkat kecamatan telah diadakan. Karena temanku ini punya bakat dalam bidang olahraga, ada guru yang telah memberi dia kesempatan.

Mengikuti lomba lompat tinggi tingkat kecamatan, jadwal lombapun telah ditentukan. Ketika lomba berlangsung, tidak ada yang mengalahkan. Temanku ini menjadi juara satu lompat tinggi tingkat putri sekecamatan dan pemenang akan didaftarkan menuju lomba tingkat kota. Namun apa daya, Tuhan tidak berpihak. Setelah mengikuti lomba tersebut, di hari berikutnya temanku ini masuk rumah sakit. Keluarganya menegur dan teman-temannya memberi tahu Pak Guru kalau temanku ini masuk rumah sakit setelah mengikuti lomba.

Sudah tidak ada yang percaya, semua bidang olahraga yang akan diperlombakan tidak bisa diikuti temanku ini. Padahal dia sesungguhnya berbakat sekali dalam bidang olahraga. Namun sayang, dia penyakitan. Kemudian hari ini temanku sudah dewasa, sudah besar meskipun masih penyakitan. Dia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, dia banyak dikagumi dan disayangi karena dia rajin, pekerja keras, friendly, meskipun tubuhnya mungil tapi dia itu memiliki wajah yang manis menarik hati.

Kali ini teman-temannya temanku ini sudah berbeda, sudah bukan yang dulu lagi. Tidak ada yang tau tentang penyakitnya, tidak ada yang tau tentang kepahitannya selama ini. Dia sengaja merahasiakannya dari teman-temannya, kenapa? Karena dia ingin merasakan yang namanya bebas meskipun hanya sedikit. Dia mendaftar di berbagai kepanitian dalam acara yang besar. Membutuhkan fisik yang kuat, namun tetap dia jalani tanpa sepengetahuan siapapun. Tidak disangka, dia sangat menikmati hari-hari itu ketika acara telah berlangsung. Dia juga tidak menyusahkan orang-orang yang disekitarnya, dia selalu menjaga dirinya agar tetap baik-baik saja selama persiapan acara sampai berakhirnya acara.

Untuk hidup bebas, selama ini dia selalu menyembunyikan banyak hal dari dirinya. Semua itu dia lakukan hanya karena ingin mencicipi bagaimana orang-orang normal bisa beraktivitas dan melakukan sesuatu yang mereka suka. Dengan begitu, dia juga akan merasa senang karena dengan begini tidak akan ada yang mengkhawatirkan kondisinya. Dengan begitu, dia tidak akan merasa menjadi beban bagi teman-temannya. Karena selama ini, dia sudah begitu menyusahkan orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya. Nah, hebat bukan temanku ini! Meskipun dilahirkan istimewa, tapi mental dan hatinya bukankah tangguh sekali.  

“Untuk temanku ini, jangan pernah menyerah ya, aku sangat menyayangimu kawan!”

Hujan Rindu

Hujan Rindu                           
Oleh: Siri Gachi

 Gerimis rintik, gemercik menyapa              
 Ah sudahlah, aku sungguh tak apa
 Berdebu rindu karenamu ku tak mampu
 Langit menetes menyapu tangisku
  
 Hatiku yang sudah beku oleh waktu
 Bersama hujan dan rindu, aku ingin bertemu
 Jadi, ini hujan apa rindu! 
 Di saat hujan yang terus menderu
 Aku yang terus merindu, meringkuk lelah memikirkanmu
 Tak pernah reda dan selalu membelenggu
  
 Ah, aku hujan rindu
 Hujan rindu, ketika hujan menemaniku
 Langit yang lagi-lagi menangis tersedu
 Melihatku yang pilu meratapimu
  
 Ah, sepertinya ada yang salah dalam kalbuku
 Hujan yang terus merintih mengingatkanku
 Perpisahan terakhir di saat hujan menyapu
 Menyapu jejakku dan jejakmu saat itu
 Aku tau dibalik hujan kamu memanggilku
 Dek hujan, katamu dari cerita masa lalu
  
 Sampai kapan hujan ini akan berakhir
 Sudah cukup! Air mataku terus mengalir
 Tak pernah kering, karenamu yang tak pernah hadir
 Kutunggu langit yang akan bergulir
  
 Setelah itu rinduku pasti akan berakhir
 Ku kira hujan sudah reda
 Tapi masih saja tetap menyapa
 Kamu hujanku yang selalu setia
 Terima kasih sudah mau berbagi rasa
 Membawa hujan rindu kepada orang itu 

Kajian Gaul

Santrendelik, sebuah kajian yang cocok untuk anak muda jaman now. Kajian setiap malam jumat ini, biasanya akan dimulai dengan diiringi musik dangdut, acoustic, rege atau musik-musik yang lainnya sebagai hiburan pembuka. Dengan dihadirkan makanan dan minuman gratis untuk mahasiswa. Berbagai kalangan pun boleh masuk secara sukarela, gratis tidak dipungut biaya apapun. Biasanya di sana banyak perkumpulan mahasiswa dari berbagai Universitas di Semarang, ada Unnes, Undip, Udinus, UIN Walisongo dan mahasiswa dari Universitas lain juga biasanya hadir. Baik muslim ataupun nonmuslim semuanya boleh bergabung. Siapapun boleh bergabung.

               Kemarin Kamis, 10 Oktober 2019 Santrendelik menghadirkan tema yang sungguh menarik, temanya yaitu, “Ya Allah! Aku Ambyar.” Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “ Ya Allah! Aku Bubar.” Tema yang selalu unik, dan pembahasan yang selalu menarik menjadi kajian terfavorite sendiri di kota ini. Kalau tidak bisa hadir, siaran langsung di youtube juga disuguhkan. Tertarik! Subcribe aja Channel youtubenya di Santrendelik.

               Kali ini bintang tamu yang menjadi hiburan  adalah OM POLLIN dengan Ustad lucu sebagai pembicara dalam kajian ini. Dalam cerita ini panggil saja Ustadnya dengan nama Ustad lucu ya. Kenapa, kenapa? Karena dengan cara bicaranya yang renyah dan humoris, para pendengarpun tidak ada yang akan bosan dengan kajian-kajian yang dibawakan oleh Ustad lucu ini. Selain gaya humornya ketika menyampaikan dakwah, kalimatnyapun sangat bisa dicerna di kalangan mahasiswa atau di kalangan anak muda jaman sekarang.

               Terkadang, karena berbagai masalah yang terus menantang. Ada kalanya pasti jika tidak kuat dengan permasalahan yang dihadapi, maka akan ambyar atau hancur karena masalahnya terlalu begitu berat. Nah, jadi bagaimana cara menyelesaikannya? Kalau begitu mari kita simak ceramah dari sang aktor Pak Ustad lucu ini. Sebagai contohnya, beliau mengambil cerita nyata yang dihadapi oleh teman-temannya ketika di bangku kuliah.

               “Dulu waktu saya kuliah, ada temen saya yang kuliah sampai semester 22 baru lulus. Kenapa dia bisa bertahan sampai seperti itu, ya karena dia menikmati saja jalannya. Skripsinya yang kelar-kelar karena dosennya terlalu sempurna, minta ini minta itu. Tapi teman saya tetap bersabar. Tapi kalau sudah sampainya di rumah, dia langsung beli ayam, terus ayamnya di kalungin kertas yang sudah ditulisin nama dosennya. kemudian sambil memaki-maki, ayamnnya, dia sembelih sampai mati.”

               “Hahaha….” para pendengar setianya pada tertawa.

               “Iya benar itu, terus ada lagi temen saya yang rela manjat pohon pepaya, kemudian dari atas sampai bawah batangnya ditulisin nama dosennya. Kemudian setelah itu, dia turun kembali terus ngambil batu kerikil dan ditimpukkilah pohon pepaya itu pake kerikil. Sambil maki-maki dan sampai menangis nimpukkinnya.”

               “Hahaha….” Semuanya tertawa kembali.

               Berdasarkan cerita di atas, cara pertama untuk mengatasi masalah agar tidak ambyar adalah dengan mengekspresikan permasalahan itu melalui berbagai media. Tidak langsung pada objeknya, kalau langsung pada objeknya bisa dipenjara kaliii. Iya kan, iya kan.

               Kemudian ceramahpun berlanjut. Beliau mengambil permasalahan cinta kali ini.

               “Dulu, saya menikah dengan istri saya dan sudah lama tidak dikaruniai anak. Semua orang pada menanyakan kenapa ko belum mempunyai keturunan dan berbagai macam omongan yang sudah terlanjur masuk telinga kanan saya. Suatu hari, ada salah satu teman saya yang bilang…”

               “Hlo kamu kok belum punya anak kenapa?” Tanya teman saya.

               “Yo wis ben, itu biar menjadi urusan saya dengan Allah.” Jawab saya.

               “ Hla kamu gimana to, ko nggak bisa jadi.” Katanya teman saya.

               “Hla kok kamu ngece to.”Bermaksud menghina saya.

               “Hla kuwi buktine durung duwe anak (hla itu buktinya belum punya anak). Balas dia berlanjut.

               “Kene jajal jileh bojomu (Sini coba pinjem istrimu).” Balas saya.

               “Hlo kowe kok ngana to,mbok sing genah (hlo kok kamu gitu to, mbok yang bener.” Katanya dia kaget.

               “ Hla kowe salahe mulai dhisik (hla kamu salahnya mulai duluan). Jawab saya.

               Para pendengar setianyapun langsung tertawa, caranya yang cerdas menanggapi hinaan orang lain. Tak lama kemudianpun beliau dikaruniai anak. Karena saking jengkel dengan omongan-omongan orang. Akhirnya setelah anak yang satu muncul, muncullah anak-anak berikutnya sampai beliau sekarang sudah mempunyai lima anak. Meskipun begitu, setelah dikaruniai lima anakpun, omongan-omongan dari orang tidak cukup sampai disitu.

               “Hlo, anakmu kok akeh-akeh to (hlo, anakmu kok banyak-banyak to).” Katanya temannya.

               “Hla kowe piye to, dhisik aku durung duwe anak ribut, saiki anakku akeh ribut (Hla kamu gimana to, dulu aku belum punya anak ribut, sekarang anakku banyakpun ribut).” Katanya Ustad.

               Memang manusia itu aneh ya, tapi dengan entengnya beliau menjelaskan hal tersebut. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa seberat apapun masalah kita, maka kita harus tetap menikmati hidup. Belajar bersyukur dan bersabar, melapangkan hati, menerima apa adanya. Karena katanya beliau di setiap kesulitan yang terjadi pasti ada kebaikkannya, maka yakinlah.

               Kemudian di lain cerita, di suatu hari ada seorang yang curhat dengan beliau. Seorang wanita yang telah dilamar oleh kekasihnya, dengan segala persiapan sudah matang, undangan pernikahanpun juga sudah disebar. Namun tiba-tiba kekasihnya itu membatalkan pernikahannya tanpa sebab. Wanita itu sungguh sangat bersedih, malu rasanya telah dicampakkan begitu saja, apalagi keluarganya si wanita tersebut.

               “Gimana Pak Ustad ini jalan keluarnya.” Katanya wanita itu.

               “Ya sudah nggak papa, mungkin dia belum jodoh kamu.”

               “Nggak papa piye, wong kamu nggak merasakan kok.” Katanya wanita itu sambil menangis tersedu-sedu.

               “Loh, kok malah aku to sing mbok seneni (hlo kok malah aku to yang kamu marahi). Katanya Pak Ustad dengan santai.

               “Ya sudah sabar, pasti Allah akan memberikan jalannya.” Tambah Pak Ustad.

               “Sabar, sabar piye, wong kene yo wis sabar.” Katanya wanita itu.

               Tapi setelah beberapa tahun kemudian setelah wanita menikah dengan orang lain, wanita itu menghubungi kembali Pak Ustad untuk membawa kabar gembira.

               “Halo, Pak Ustad saya mau ngucapin terima kasih kepada Pak Ustad. Alhamdulillah Pak Ustad.”

               “Alhamdulillah kenapa?” Tanya Pak Ustad.

               “Anu, Alhamdulillah Pak Ustad.”

               “Iya, Alhamdulillah kenapa?” Balas Pak Ustad.

               “Alhamdulillah, mmm Alhamdulillah Pak Ustad.”

               “Iya, Alhamdulillahnya itu Alhamdulillah kenapa?” Tanya Pak Ustad sampai gemas.

               “Mmm, Alhamdulillah Pak Ustad, saya bersyukur tidak jadi menikah dengan dia (kekasih yang membatalkan pernikahannya). Soalnya sekarang saya dengar kalau dia, kalau dia sekarang di penjara Pak Ustad.” Jelas wanita itu.

               Jadi, pesan terakhir untuk menutup kajian di malam itu yaitu “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan, hanya saja kita tidak sadar dan baru bisa membacanya setelah kesulitan itu terjadi.”

RACUN SEPI

 RACUN SEPI 
 Oleh: Siri Gachi

 Sepi...
 Hujan membawa sepi, sepi, dan sepi
 Karenamu aku sepi
 Ah, aku keracunan
 Aku sekarat, terasa berkarat
  
 Dasar kau racun sepi!             
 Semakin gelap, sunyi, dan rapuh
 Dan ketika itu...
 Sepi menyadarkanku
  
 Sepi mengantarku pada satu kenyataan
 Kau pergi, tak bisa kumiliki
 Sendiri tiada arti
 Tertusuk panah kegelapan
  
 Terkurung jurang kepedihan
 Sepi akan kerinduan, sepi akan kebahagiaan
 Mengapa kau hilang mengalir bersama hujan
 Pecah tak terbendung telaga di mataku 
  
 Mengalir menikmati racun sepi
 Biarlah, biarlah...
 Tak apa sayang!
 Kutunggu dirimu dalam sepi 

Kapsul Perangsang

 Kapsul Perangsang
 Oleh: Siri Gachi
  
 Salam Persaudaraan!
 Salam dari sang kapsul perangsang
 Perangsang untuk pertumbuhan
 Pertumbuhan untuk masa depan
  
 Hai kawan, jiwa perangsang
 Ajaklah kami sekalian
 Untuk revitalisasi penghargaan
 Demi perbedaan masa depan
  
 Hai kawan, kobarkan salam persaudaraan
 Kau satu, tapi jiwamu seribu
 Mampu menyadarkan kaum kaummu
 Yang bedebah  penuh kenistaan
  
 Merenggut tali keberagaman
 Memimpin untuk menyelamatkan
 Mengajak untuk menumbuhkan
 Jiwa penghargaan untuk perbedaan
  
 Salam Persaudaraan!
 Salam untukmu para pahlawan
 Kaulah kapsul perangsang 
 Pembawa persatuan dalam persaudaraan 

Benih Penghargaan

Oleh: Siri Gachi

 Menuai waktu, singgah di zaman perbedaan
 Menggapai cita dalam persaudaraan
 Merevitalisasi benih penghargaan
 Demi perbedaan yang semakin pedar
  
 Toleransi harus berpartisipasi
 Manusia bumi, tegak teguh turun aksi
 Membangun bumi pertiwi
 Sadarkan kaum ini
  
 Meratapi benih adiksi
 Terkulai mati, tanpa tanah, air dan mentari
 Oh, perbedaan indah sekali
 Melengkapi dan membersamai
  
 Unsur yang tak terpisahkan hati
 Penghargaan terhadap perbedaan
 Adalah persaudaraan, bukan keegoisan
 Bukan kesendirian, dan bukan kerakusan
  
 Benih penghargaan yang ditanam, 
 Tumbuh kuat dalam gengaman
 Perbedaan akan keanekaragaman
 Tetap kokoh dalam kesatuan 

Bercengkerama Tentang Dendam

Ini tentang dendam, dendam yang diceritakan kawan-kawan. Di kamar kos ini, kami berempat sedang bercengkerama tentang dendam. Sambil terkikik, tertawa dan rasanya memang tidak karu-karuan. Entah kenapa kami mengambil tema tentang dendam, dendam yang harus dirasakan untuk kekasih mereka tercinta. Kekasih memang perlu di perhatikan, terutama ketika mereka bermain bersama kawan. Apalagi kawan yang dia ajak pergi adalah wanita yang mungkin akan menimbulkan rasa. Memang, cinta yang buta mampu mencipta karya yang dimankan prasangka. Prasangka tentang rasa yang tak ingin berujung pada lara.

               “Pacarku itu kalau pergi sama teman-temannya pokoknya nggak boleh boncengan sama teman wanitanya.” Katanya kawanku yang nomor 1 ini.

               “Pokoknya, kalau kamu boncengan sama wanita lain aku doain kamu kecelakan terus mati di jalan, aku pasti bilang begitu sama dia. Hehee” Kawanku yang nomor 1 ini sungguh kejam.

               “He eh Ren, kadang aku juga bilang begitu sama pacarku. Hihihi, ternyata bukan aku doang ya.” Kawanku yang nomor 2 menambahi.

               Oh, ternyata begitu caranya dia dendam. Saking tidak terimanya, saking berartinya seorang pacar untuk mereka, cara apapun pasti akan dilakukan. Demi pacar tercinta, demi hubungan yang setia.

               “Kalau pacarku chattan sama wanita lain, aku pasti juga chattan sama pria lain juga. Emangnnya yang bisa dia doang.” Katanya kawanku yang nomor 2.

               “He eh Mil, aku kadang juga ngomong gini sama pacarku. Aku hlo, kalau nggak demi kamu, aku bisa cari cowok yang lebih dari kamu, cari sepuluhpun juga bisa.” Kata kawanku yang nomor 1.

               Kata mereka, dendam itu sangat dianjurkan. Kalau tidak mereka bisa kewalahan, kalau tidak mereka akan kehilangan sang pacar. Dengan dendam, mungkin akan membuat sang pacar tidak melakukannya kembali. Karena dengan begitu, mereka akan tau bagaimana rasanya dikhianati. Kemudian, setelah itu akan ada namanya sebuah komitmen dan timbul rasa saling percaya di dalam setiap hubungan.

               Karena bagi mereka, status pacar itu ibaratnnya harus saling memiliki. Tidak ada yang boleh meminjam, ataupun meminta selain sang pacar. Meskipun masih bisa menjaga diri, tapi yang namanya pacar itu ibaratnya sudah seperti sebuah ikatan. Namun ikatan itu masih bisa lepas suatu ketika jika memang tidak ditakdirkan.

               Bagi saya pacar itu ibaratnya seperti sebuah surat resmi yang sudah ada tanda tangan dari sang direktur terkemuka. Namun tetap saja, suratnya belum terbukti keabsahannya jika belum ada stempel atau cap perusahaan. Belum bisa dikirim, dan belum bisa dibaca isinya oleh sang penerima. Seperti itulah pacar versi saya.               

Nah, kalau kalian, pacar itu versi yang seperti apakah dia? Tapi yang pasti, antara cinta dan pacar bisa jadi menimbulkan dendam, antara cinta dan pacar bisa jadi akan ada rasa sayang di dalam setiap hubungan. Tinggal kalian bagaimana cara menjalaninya, bagaimana cara mewarnainya, bagaimana cara menghadapinya dan yang terakhir bagaimana cara menyelesaikannya.

Aku dan Tugu Muda Dalam Pertempuran Lima Hari Semarang

Waktu itu Indonesia sudah merdeka, 17 Agustus 1945 telah berdentang pertanda kemerdekaan telah diproklamasikan. Namun tetap saja, masih ada duka di dalam Negara yang belum sepenuhnya merdeka atas kuasanya. Aku sebagai saksinya, masih saja terjadi luka lara di antara kita, belum terdengar suara tawa  di bumi pertiwi ini.

               Semarang, kota tercinta yang belum waras dan masih tertindas perlu ditata. Cukup lima hari kita sudahi kesengsaraan ini. Kalian pasukan Kudobutai tak akan kami biarkan berdiri di tanah ini. Tawanan yang lari bergabung lagi, itu tak masalah bagi kami. Aku sebagai saksi bumi pertiwi, akan kubalas sampai keji. Kalian para pasukan Jepang, kalian pasukan Kudobutai bersama Jendral Nakamura, enyahlah dari sini. Karena kalian sumber aib pembawa tragedi.

               Minggu, 14 Oktober 1945 pukul 6.30 WIB dari rumah sakit Purusara, aku bersama teman-teman tercinta siap mencegat dan melucuti senjata mereka. Karena mereka memang sudah tidak bisa diampuni, kalian para pendosa akan kujebloskan ke penjara. Bersama teman-teman tercinta pasukan Jepang berhasil kami jebloskan ke Penjara Pasar Bulu. Namun pada pukul 18.00 WIB pasukan Jepang yang masih selamat ternyata telah melancarakan serangan dan sangat disayangkan mereka malah melucuti delapan anggota polisi istimewa yang menjaga sumber mata air kami.

               Sudah bukan geram lagi, aku sudah naik pitam, darah kami sudah mulai mendidih. Terlebih lagi ada isu bahwa mereka telah meracuni Resevoir Siranda kami. Siranda, satu-satunya sumber mata air kami di Kota Semarang. Beliau yang bernama Dr. Kariadi juga mulai ikut aksi. Namun apa daya, beliau yang bermaksud ingin mengecek sumber mata air kami, malah ditembak peluru bedil dan akhirnya mati. Jalan Pandanaran menjadi saksi, Dr. Kariadi yang dicegat di jalan ini ditembak mati.

               Sungguh keterlaluan dan tak terampuni, aku dan teman-teman siap perang demi kota Semarang ini.

“Majuuuu, bebaskan kota ini dari penjajah yang tak tahu diri.” Teriak pemimpin komando.

               Tak peduli seribu korban berjatuhan, demi kemenangan kami siap menangis dan berjuang. Demi generasi tercinta kota ini harus dibebaskan. Berhari-hari kami lalui, merintih penuh kesedihan, teman-temanku yang telah gugur satu persatu sangatlah berarti. Cukup! Lima hari tanggal 18 Oktober 1945 ini kami sudahi, kalian para penjajah kejam telah undur diri. Meskipun darah bercecer, dan derap luka yang tak akan lupa korbannya, kami harus tetap maju. Akhirnya pengorbanan dan perjuangan yang tidak sia-sia membawa kami menuju pada titik yang dinamakan Kemenangan.

“Hidup Kota Semarang, Hidup NKRI!” Semuanya berseru berteriak.

               Kalian yang telah gugur mendahulu kami, maaf jika tidak bisa menyelamatkan. Aku yang masih terselamatkan akan kukenang jasa-jasa kalian. Akhirnya, kubuatkan sebuah monumen untuk selalu mengenang kalian, monumen itu kunamakan “Monumen Tugu Muda”.  Monumen Tugu Muda yang artinya “jiwa dan semangat kalian akan terus mengalir di dalam darah para generasi baru yang akan menjadi penerus bangsa.” Teman-teman tercinta aku ucapkan terima kasih telah menyelamatkan kota ini. Kota yang kelak nanti akan lahir pemuda-pemuda baru yang akan berbakti, mengabdi untuk kota dan bangsa .

Salam, dari aku dan Tugu Muda yang menjadi  saksi dalam pertempuran lima hari kota semarang.

Keyakinan yang Mungkin Berarti

Waktu yang akan membuktikan jika kita ditakdirkan bersama, untuk kali pertamanya aku merasakan cinta yang begitu dalam. Untuk  kali pertamanya aku telah jatuh hati pada seseorang yang awalnya aku tidak mengenalnya sama sekali. Intuisi serta serta perasaan ini akan menuntun kita kembali bersama. Kita merasa, jika kita dekat, kita seakan ingin menoleh tanpa  pikiran yang tak sadar. Itu karena perasaan dan hati kita satu dan saling berikatan, bagaikan magnet antara kutub utara dengan kutub selatan yang jika dipertemukan pasti akan menempel dan sulit dipisahkan.

Meski raga kita berjauhan, sikap dan kegengsian kita sama, sama – sama tak ingin mengungkapkan,  sama – sama saling diam dan pura – pura tidak kenal saat berpapasan. Tapi aku yakin suatu saat nanti jika kau sudah mengerti apa arti cinta sejati itu, kau akan mengatakan kalimat itu kepadaku. Karena aku tau… “kau telah memilihku”. Meski  sama – sama saling menyakiti, saling membuat cemburu tanpa sengaja, namun kita masih biasa saling menerima  dan memaafkan. Karena di alam cinta selalu ada kata maaf, maaf, dan maaf.

Tak terpikir berapa  usia kita yang berbeda, terkadang kau tak ingin mencintai dan menerimaku. Tak menginginkanku sebagai pendamping hidupmu. Kau selalu ingin mengelak dan menghianati hatimu. Tapi… tak apalah kau lakukan itu padaku. Kelak, saat dewasa nanti kau akan mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya.  Cinta yang tak memandang usia ataupun status keluarga.

Karena hati itu selalu benar, dan lambat laun ketika jiwa, raga dan pikiranmu telah lelah memberontak. Kau akan mengikuti kemana hatimu pergi. Di saat itu kau mulai sadar dan merasa tenang karena telah menemukan jalan untuk pulang, jalan untuk kembali di sisiku. Hati adalah petunjuk hidupmu. Suatu saat nanti kau tidak akan mengecewakan hatimu lagi. Karena hati selalu berkata benar. Hatimu telah memilihku dan begitupun sebaliknya.

Hati ini akan menuntun kita kembali bersama.”Percayalah”. Disaat kita bertemu lagi dihari esok nanti, meski kita lupa akan wajah yang asing karena untuk meraih cita – cita tapi hati akan selalu mengingatkan dimana kita akan pulang. Terkadang saat aku jauh darimu, takut, takut, dan takut untuk menjaga hatiku ini sendirian. Ada seorang yang ingin merebut hatiku darimu. Dan aku mulai sadar, cobaan telah melanda datang. Untuk menggoyahkan silih berganti tiada henti. Kemudian kitapun menjadi renggang dan sering bertengkar. Namun tak apa sayang, jika memang waktu, hati yang saling mencintai, dan takdir itu saling berkaitan, kita pasti akan dipersatukan kembali.

Perbedaan

                Kali ini penulis akan menghadirkan dua tokoh utama yang akan memerankan peran di sebuah panggung sandiwara kehidupan. Perbedaan menjadi tema  yang menarik dalam adegan ini. Ya, perbedaan. Perbedaan dari cara pandang seorang laki-laki dan perempuan.

               “Hei, lagi apa?” Tiba-tiba Si Laki-laki mengajak bicara. “Lagi males nih, padahal skripsi belum kelar.” Jawab Si Perempuan. “ Sini, ngerjain bareng sama temen-temen.” Ajak Si Laki-laki. “Wee, tambah males deh. Aku ini, tipikal orang yang bisa fokus sesuatu ketika sendirian.” Katanya si Perempuan.

               Kemudian tercetuslah sebuah nama di dalam benak Si Laki-laki, nama yang mampu menjawab sebuah pola pikir antara laki-laki dengan perempuan.

               “ Terkadang kita perlu berbeda.” Katanya Si Laki-laki. “ Mmm, benar. Tapi karena perbedaan itulah yang membuat sesuatu atau seseorang tidak bisa bersatu.” Katanya Si Perempuan. “Karena berbeda, justru saling melengkapi. Orang kalau nikah aja carinya yang lawan jenis.” Balas Si Laki-laki.

               “Mmm, benar. Karena berbeda justru saling melengkapi, tapi di balik perbedaan kadang timbul ketidak percayaan.” Jawab Si Perempuan. “Makanya belajar percaya, belajar koreksi diri sendiri, jangan banyak menuntut.” Kata Si Laki-laki. “Tidak percaya bukan maksudnya menuntut, tapi karena pernah berpengalaman tersakiti karena sebuah perbedaan. Bukankah akan timbul yang namanya trauma akan ketidak percayaan? Nah, jadi bagaimana?” Jawab Si Perempuan menjelaskan.

               “Belajar memaafkan Dek.” Jawab Si Laki-laki. “Bagimana jika sudah berulang kali memaafkan, tapi ternyata malah semakin membuat terluka dan kecewa.” Tanya Si Perempuan. “Kalau kamu tidak bisa memaafkan, setidaknya belajar memaafkan untuk kebaikanmu sendiri. Memaafkan bukan berarti kembali bersama, meaafkan untuk kebahagiaan diri sendiri. Maafkan lalu tinggalkan.” Si Laki-laki menjelaskan.

               “Memaafkan untuk kebahagiaan diri sendiri… Mmm, bagaimana jika sudah kumaafkan tapi aku belum bisa memaafkan diri sendiri?” Tanya Si Perempuan kembali. “Maafkan juga dirimu sendiri, semua orang bisa salah. Termasuk diri kita, kita juga berhak merasakan kebahagiaan. Diri kita juga berhak untuk bahagia.” Jawab Si Laki-laki.

               “Kalau begitu, muncul pertanyaan baru. Diri ini yang sejak awal sudah ada dalam gelap, bagaimana caranya bahagia?” Tanya Si Perempuan. “Hidupmu masih panjang, apa kamu nggak pengen bahagiain orang tuamu. Bahagiain dirimu sendiri, bahagiain keluargamu nanti. Percayalah, semua orang bisa salah. Semua orang juga berhak untuk memperbaiki diri, jangan batasi diri hanya karena kesalahan dari masa lalu. Cukup, jadikan itu pelajaran agar tak mengulangi lagi.” Cerocos Si Laki-laki yang mulai jengkel.

               “Mmm, benar. Meski hidup sepahit apapun, aku hanya perlu terus berjalan dan terus berjalan kan. Sampai aku menemukan jawabannya, seperti itukah?” Lagi-lagi si Perempuan masih bertanya. “Iya.” Jawab Si Laki-laki dengan singkat. “Nah, lalu jika aku terus berjalan dan sudah merasa lelah karena tak kunjung menemukan jawaban, bagaimana?” Si Perempuan ternyata masih bertanya.

               “Ya  udah, jawabannya nggak usah dicari. Kadang jawaban datangnya bisa bertahun-tahun, bahkan sampe kita sudah melupakannya. Biarkan!” Jawab Si Laki-Laki masih bersabar.

               Berakhirlah panggung sandiwara ini. Memang, Laki-laki dan perempuan itu berbeda. Selain dari fisik, dari cara pandang dan cara berpikir mereka saja juga sudah berbeda. Si Perempuan yang selalu memandang rumit sebuah permasalahan, padahal masalahnya hanya sepele. Kalau Si Laki-laki membiarkan dan menjalaninya dengan santai. Kalau Perempuan susah sekali percaya, karena trauma. Si Laki-laki lebih cepat untuk bangkit kembali dan seolah yang lalu sudah bukan apa-apa. Katanya hal itu karena perempuan sering menggunakan perasaan, sedangkan laki-laki lebih menggunakan logika. Ya, itu benar. Terlebih lagi, perempuan itu lebih mudah memaafkan dan lebih mudah tersakiti. Kalau laki-laki lebih mudah mengulangi, dan lebih mudah melupakan. Bukankah begitu?

               Jadi, untuk kedua belah pihak tolong mengertilah. Perlu diingat hlo, ini perbedaan antara laki-laki dan perempuan versinya penulis ya. Untuk kalian Si Laki-Laki dan Si Perempuan yang membaca blog ini, kalau ada yang salah tolong diluruskan, kalau semuanya benar tolong ditambahkan. Tolong di tambahkan apa yang menurut kalian (Si Laki-Laki dan Si Perempuan) hal yang membedakan  pada sosok dua tokoh utama itu.

               “Jangan lupa comment.” 🙂 Penulis

Demi Teman Dia Membuang Cinta

Semilir sejuk belaian angin menyambut diriku, menambah aroma semangat untuk melangkah lebih maju. Langkah demi langkah kutapaki anak tangga yang belum pernah kulewati itu. Kemudian aku mulai berbelok ke kiri setelah menapaki anak tangga terakhir. Aku menyusuri jalan dan sampai pada ujung jalan aku menemukan sebuah kelas. Ini memang kali pertamanya aku berada di sini. Tertulis “Kelas X.3” tepat di atas pintu tempat aku berdiri. Aku masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan kelas X.3 itu, aku memilih bangku baris kedua dari pintu masuk dengan kolom nomor tiga untuk kududukki. Setelah kugantungkan tasku di belakang kursi, akupun melihat sekitar, hari ini aku akan mendapat teman yang baru.

               Dari bangku ini, aku melihat ke arah pintu luar yang menuju teras depan ruang kelas.  Terdapat beberapa cewek yang mengobrol di sana. Ah, senyumnya manis sekali, siapa gerangan dia. Ketika aku melihat salah satu dari mereka, aku terpana. Kenapa hatiku berdebar-debar, padahal ini kali pertamanya aku melihat dia. Saat menoleh, aku mencoba tersenyum kepadanya. Ternyata dia tidak merespon sama sekali.

               “Dasar, cewek cuek.” Batinku mencoba untuk bicara.

               “Dasar, cewek dingin.” Otakku mulai mempengaruhi.

               Padahal dia begitu manis ketika tersenyum, senyumnya begitu indah. Membuatku klepek-klepek, tapi kenapa dia terlalu dingin. Setelah bel sekolah berbunyi, rombongan siswa masuk ke habitatnya masing-masing. Tidak disangka ternyata dia duduk tepat di depanku, duh senangnya hati ini. Kini pelajaran telah dimulai, maaf bukannya sombong. Bukannya aku menghamburkan ilmu yang diajarakan guruku. Tapi ada penyihir yang menyihirku, aku hanya bisa fokus kepada dirinya. Kamu yang duduk di depanku, kamu penyihir kecilku. Tapi dia tidak bergerak sedikitpun, di hanya fokus ke depan mendengarkan ceramah guru. Ah, kujahili saja. Kutempelkan solatip ke setiap sulur-sulurnya yang indah itu. Sulurmu begitu hitam dan lebat, bergelombang seperti ombak yang menghanyutkanku. Yups, sulur itu adalah rambutmu yang dikuncir kuda, jika tampak dari belakang setiap helaian rambutmu begitu bersinar. Memancarkan cahaya kehidupan,  apalagi ketika tak sengaja kamu mengibaskan rambutmu itu, duuh cantiknya.

               Pada suatu ketika, ada salah satu cewek yang menyukaiku. Tapi karena hati ini sudah milikmu, aku tak bisa berpindah hati kepada yang lain. Pelajaran terakhir di mulai kembali, Bahasa Inggris nama pelajarannya. Guru kami membentuk sebuah kelompok belajar dengan masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan takdir, hari ini aku semakin dekat dengannya. Aku dengan dua orang temanku, dan pastinya kamu wanita pujaan hatiku, kami akan belajar bersama. Diapun membalikkan kursi dan mejanya, sekarang dia tepat di depanku.

Sekarang dua orang yang ada di hadapanku akan menjadi bagian cerita dalam hidupku. Nina yang tepat duduk di depanku namanya Nina, cewek yang kucintai. Sedangkan cewek yang duduk di samping Nina namanya Ana, cewek yang mencintaiku. Sikapnya Nina yang tomboy, polos, dan berpenampilan apa adanya berbeda sekali dengan Ana. Ana memiliki sikap yang feminim dan mudah menangis jika sedikit terluka. Hal itu sama sekali bertolak belakang antara Nina dan Ana. Selain itu, kamu Ninaku yang susah didekati, membuatku semakin menjadi-jadi. Kamu membuatku menjadi semakin gemas akan sikapmu itu, aku terus mengejarnya. Tak pernah menyerah, tak pernah mundur sekalipun.

Sampai pada saatnya kami akhirnya saling dekat. Akupun berniat untuk mengutarak isi hatiku kepadanya.

“Na, kenapa sih kamu kalau aku deketin sukanya menghindar?” Kataku basa basi.

“Masak, kapan?” Balasanya dengan santai,

“Dasar cewek kepala batu, cuweknya minta ampun.” balasku dengan gemas.

“Aku tu selama ini suka sama kamu Na, tapi ko kamu nggak peka-peka sih. Malah menghindar terus, emangnya ak nggak pantes apa buat kamu Na.” Kalimatku semakin menggebu-gebu penuh emosi.

“Udahlaah, nggak usah di terusin. Kamu tau kan kalau Ana juga suka sama kamu.” Katanya lagi dengan muka datar.

“Mendingan kamu sama Ana aja.” Perkataanya membuat dadaku terasa berat seperti ditikam beribu-ribu pedang.

Kalimatnya yang begitu santai dan jelas, ekspresi wajahnya yang begitu datar, emosinya tidak terbaca sama sekali. Nanaku sayang, sebenarnya kamu terbuat dari apa. Akupun mulai bingung, apa ini artinya dia tidak menyukaiku. Ah, masak dia tidak menyukaiku. Atauu…

“Arrgh…” Ku acak-acak rambutku karena pusing. Kamu penuh tanda tanya Na.

To be continued…

Pengorbanan

               Aku ingin kalian bisa berteman lagi seperti dulu. Dulu yang selalu bersama, dimanapun dan kapanpun. Jika hal ini terjadi karena aku, aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenal kalian sejak awal (aku melihat mereka). Daripada membuat kalian bercerai-berai, mengusik kehidupan kalian dan merusak pertemanan kalian.  Hanya karena seorang wanita yang tidak berguna sepertiku, kalian menjadi bisu, buta dan tuli karena cinta. Maaf jika aku menyakiti hati kalian, maaf karena hanya kata maaf, maaf, dan maaf yang hanya bisa kulakukan. Aku tau kalian mencintaiku, tapi cara kalian tidak tepat jika kalian harus putus pertemanan demi memperjuangkan cinta. Aku sadar, aku memang mencintai salah satu diantara kalian. (Mereka melihatku dengan penuh cinta). Tapi maaf jika kalian terus begini, aku tidak akan bisa memilih.

“Aah, andai saja waktu dapat berputar…” Aku menghela nafas.

               Karena aku lelah, aku menghampiri bangku yang ada di belakangku, dan kujatuhkan pantatku di sana. Sedangkan mereka masih berdiri menatapku, aku mendongakkan kepala ke arah mereka dan mulai bicara kembali. Sebelum aku  pergi nanti, aku harap  masih punya kesempatan untuk mendamaikan kalian, memperbaiki hubungan yang telah retak ini. Aku berjanji, akan kupoles kembali seperti sedia kala. Aku ingin kalian mendengarkan ini baik-baik…

               “Bertemanlah kembali!” Aku menatap mata mereka dengan bergantian, lebih lama dari biasanya.

               Saat kalian membutuhkan sesuatu, siapa yang akan membantu, bukankah temanmu. Di kala susah dan senang, siapa yang selalu berada di sisi kalian, bukankah juga teman. Ayolaah, jangan buang sia-sia hubungan kalian itu. Mungkin sekarang kalian tak butuh, tapi seminggu kemudian, sebulan lagi, atau satu tahun yang akan datang. Esok kalian pasti butuh yang namanya teman. Bukankah perkataanku itu benar!

“Hmm…” Sambil menundukkan kepala mereka mengangguk.

               Suatu saat nanti, aku tidak mungkin membantu kalian, tidak mungkin ada disetiap kalian butuh, di kala susah ataupun senang. Karena aku hanya seorang wanita, mana paham tentang masalah pria. Jadi jangan kalian abaikan teman demi aku. Berbaikanlah! Kelak saat aku pergi jauh, aku akan merasa tenang ketika meninggalkan kalian. Aku akan selalu mengingat nama kalian. Tidak akan kulupakan mimpi-mimpi indah dulu, ketika bersama kalian. Jagalah diri kalian baik-baik, lakukan sesuatu yang berguna, lakukan jika memang menurut kalian itu yang terbaik.

Jangan melakukan sesuatu yang membuat diri kalian hancur, tenggelam dalam lautan kepedihan, tersesat dalam kegelapan. Ingatlah, sebuah penyesalan tidak dapat  diubah, jika sudah menjadi bubur tidak akan menjadi nasi kembali. Jadi, Bangkitlah! Saling merangkul satu sama lain, buktikan kepadaku dan kepada dunia bahwa kalian layak untuk dibanggakan, layak untuk dipilih. Jika esok sudah sukses, bukankah bangga sekali aku mendengarnya. Esok saat kita bertemu lagi, kuharap kita  dapat membangun sebuah cerita yang lebih indah di kehidupan nanti.

               Tak perlu disesali, karena masih ada hari esok. Karena aku yakin, takdir akan menuntun kita pada jalannya. Sebelum aku pergi, aku ingin mengucapkan kalimat terakhir ini kepada kalian.

“Maaf, dan terima kasih. Selamat tinggal.” Itu kalimat terakhirku untuk mereka.

Lima tahun kemudian, dari sebuah pengorbananpun akhirnya membuahkan hasil. Mereka kini menjadi atlet bola voli terkenal, tidak ada yang tidak tau mereka berdua. Spiker dan seorang Setter handal dan tak terkalahkan dari negara mereka tinggal.

Sedangkan yang berperan sebagai aku, tiga tahun yang lalu akhirnya meninggal. Karena kanker otaknya yang sudah sampai stadium akhir, dan sudah tidak terselamatkan. Tapi dari sini, aku sudah menikmati hasilnya, hasil dari segala pengorbananku. Aku bangga kepada kalian, terima kasih telah menjadi bagian dari cerita hidupku. Terima kasih!

“Aah, akhirnya aku telah menyelesaikan peranku dalam panggung ini.” Tugasku sudah selesai.

undefined

Karena aku sudah tiada, mereka akhirnya mendapatkan hatinya kembali. Menjalin hubungan dengan wanita lain, wanita yang mirip sepertiku. Wanita itu, wanitanya mereka bisa disebut sebagai wanita reinkarnasi dari diriku.

Catatan: Spiker adalah pemain bola voli yang biasanya bertugas menyerang lawan dengan cara memukul bola voli, karena terlihat keren saat melakukan spike, biasanya pemain yang disebut seorang spiker banyak fansnya. Hihiii (taermasuk saya). Setter adalah pemain bola voli yang menerima bola kedua atau menerima umpan dari kawan, biasanya berada pada posisi persis di depan net.

Angin yang Membenci Alam

Angin yang selalu terbang bebas, selalu riang dan begitu percaya diri terhadap hidupnya selalu bersinar bahagia. Kepercayaan dirinya itulah yang membuat Angin selalu tersohor di berbagai kalangan. Sikapnya yang lucu, periang, dan juga cerdas sangat dicintai oleh makhluk-makhluk sekitarnya. Sampai suatu hari Angin bertemu dengan Alam, di sanalah Angin akan bertemu dengan yang namanya ujian dan keputusan. Angin yang tak sengaja bertemu Alam langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Angin begitu mencintai Alam, sehingga Angin bermaksud untuk membawa Alam untuk masuk dalam dunianya. Angin yang bekerja sama dengan Pohon sahabatnya itu, mendekati Alam dengan hati-hati. Angin yang begitu percaya kepada Pohon, menyuruh Pohon untuk mendekatinya.

Sampai suatu ketika Pohon yang berusaha mendekati Alam berhasil membuat hubungan yang dinamakan pertemanan. Pohon minta bantuan kepada Angin untuk membantunya di suatu acara, karena Alam memang sifatnya terlalu baik tidak bisa menolak ajakan Pohon. Alampun bersama Pohon, Angin dan teman-teman mereka memulai sebuah cerita. Cerita yang penuh kenangan dan canda tawa, namun akhirnya ternyata penuh luka lara. Di dalam cerita itu, Angin telah berhasil membuat Alam jatuh cinta kepadanya, sampai pada suatu ketika Pohon meminta Alam untuk bergabung di dunianya Angin dan Pohon. Tapi Alam menolak, Alam datang ke dunianya mereka hanya karena Pohon minta bantuan kepadanya, tidak ada alasan lain. Jika acaranya sudah selesai, maka Alam memutuskan untuk pergi.

Anginpun tidak bisa memahami, kenapa Alam malah pergi seenaknya. Meskipun begitu, Angin selalu memperhatikan Alam. Mencari rumahnya Alam, mencari keberadaannya Alam, secara diam-diam Angin selalu menunggu Alam berjalan. Ketika berpapasan di jalan, Angin yang selalu berjalan di depan, berjalan dengan pelan dan Alam selalu melihat punggungnya. Lagi-lagi mereka hanya bisa seperti itu, saling mengamati dan tidak melakukan apapun. Tapi kenapa hatinya (Alam) kini semakin keras, dan semakin tidak mampu disentuh. Sesungguhnya apa yang terjadi, Angin lagi-lagi tidak bisa memahami.

Karena lelah, akhirnya Angin yang bersama Pohon telah mengambil kesimpulan, bahwa cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan. Apa benarkah seperti itu…

Anginpun berkata, “Aku tak tau apa yang terjadi, antara aku dan kau. Yang kutau pasti, kubenci untuk mencintaimu.” Cintanya Angin berubah menjadi bencinya Angin terhadap Alam.

Angin yang kini tidak mampu mengerti Alam, akhirnya menyerah. “Kaum kami memang tidak pernah bisa mengerti kaum kalian, karena pada dasarnya kami diciptakan hanya memiliki nafsu terhadap kalian.” Katanya Angin.

Lalu Angin ingin hilang dari tempat Alam berpijak, tempat Alam berpijak namanya adalah Halangan. Setelah menyusuri tempat kenangannya dahulu ketika bersama Alam, sebelum menghilang Anginpun mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Bye Halangan.”

Sedangkan Alam masih di sana sendirian. Alam yang tidak bisa terbang bebas seperti Angin, tetap di kampung halangannya sendirian.

Angin yang selalu bisa terbang bebas, kini benar-benar meninggalkan Alam. Satu tahun lamanya, kini Angin menemukan makhluk foto copyan. Makhluk foto copyan yang seperti Alam itu, namanya Bulan. Kini Angin dan Bulan selalu mengarungi langit bersama, berjalan bersama, menari bersama, bernyanyi bersama. Mereka berdua terlihat begitu bahagia sekali, alunan piano yang senada dengan hatinya, memandunya bernyanyi bersama Bulan. Suaranya yang begitu merdu terus menyanyikan lirik-lirik dari sajak itu, dan nyanyiannya itu bernama “Cinta Sejati.”

Resensi Buku (Jangan Kuliah! Kalau Gak Sukses)

Tidak ada kesuksesan tanpa adanya kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa adanya usaha. Seribu kali terjatuh, maka seribu kali lagi kita harus terbangun, jangan pernah menyerah untuk terus berlari meraih mimpi. Jangan lupa berdoa! 🙂

  1. Setia_Furqon_Kholid___Jangan_Kuliah__Kalau_Gak_SUKSESIdentitas Buku

Judul Buku       : Jangan Kuliah!                                                        Kalau Gak Sukses
Pengarang        : Setia Furqon Kholid
Penerbit            : Rumah Karya
Tahun Terbit      : 2012

ISBN                 : 978-602-9544-0-3
Tebal Halaman : 191

2. Sinopsis

Buku ini merupakan buku yang memberikan motivasi cara meraih kesuksesan untuk para pemuda. Judulnya yang mengatakan “Jangan kuliah! kalau gak sukses” merupakan sindiran untuk para mahasiswa yang telah menghabiskan banyak biaya untuk kuliah, namun kebanyakan setelah lulus kuliah banyak mahasiswa yang nganggur atau bekerjanya yang gitu-gitu aja, tidak lebih dibandingkan dengan anak-anak yang lulusannya SMK. Kemudian buku ini juga berisi ajakan untuk mahasiswa cara bisa sukses sambil kuliah yakni, sukses dalam  akademis, sukses berorganisasi, dan sukses mendapatkan beasiswa.

Selain itu buku ini juga menjelaskan mengenai hukum-hukum kehidupan yang bisa mengantarkan kesuksesan, yaitu hukum kelembaman, hukum sebab-akibat, dan hukum peluang. Namun hukum-hukum kehidupan saja belum cukup untuk meraih kesuksesan, selain menerapkan hukum-hukum kehidupan kita harus memiliki lima sumber kekuatan dahsyat. Lima kekuatan dahsyat yang harus dimiliki yaitu spiritual power, emotional power, true financial power, intelectual power, dan action power.  

3. Kelebihan

Memberikan motivasi serta cara untuk meraih kesuksesan dalam segala bidang. Terdapat sumber-sumber dan lembaga pemberi beasiswa serta alamat-alamat keduataan besar. Disertai dengan tabel life board (papan kehidupan) yang memberikan petunjuk untuk setiap kotak dapat diisi tanggal dan tulisan berupa apa yang ingin dilakukan setiap harinya. Sehingga, life board memberikan panduan kepada kita untuk menentukan target yang harus kita capai.

4. Kekurangan

Isi dari bukunya terlalu banyak tahapan-tahapannya. Sehingga terkadang malas untuk membacanya dalam sekali lahap. Kalimat-kalimatnya terkadang membuat bosan dan ingin berhenti. Akhirnyapun  lagi-lagi pembaca membutuhkan jeda untuk dapat membacanya kembali.

Loe yang Nggak Pernah Sadar

Lanjutan cerita 🙂

Sumpah, emang aslinya cuaanntik, beda dari Nana yang selama ini gue kenal. Rambut yang biasanya berantakan, kini sudah rapi dikuncir kuda dan di kasih jepit rambut berbentuk pita di bagian sebelah kanan kepalanya. Wajahnya yang dulu sudah imut tanpa dikasih embel-embel apapun, sekarang sedikit terselimuti bedak yang natural plus lipgoss yang menempel di bibirnya yang mungil itu. Yah, maklumlah selama gue kenal Nana, emang dia baru ngerasain jatuh cinta di masa ini. Meskipun, make up atau tanpa make up loe tetep bidadari gue Na.

“Yan, ke kantin yuk, terus abis kantin lanjut ke perpus ye?” Ajak Nana.

“Weh, tumben. Biasa kalau gue ajak ke kantin kudu perlu nyeret-nyeret loe tuh. Kok sekarang loe malah yang ngajakkin gue dulan ya!” Gue jawab sambil memegang dagu dan pura-pura berpikir.

“Gue mau liat cowok yang kemarin Yan. Hehee… selain perpus, dia biasanya juga nongkrong di kantin Yan, jadi itulah tujuan gue saat ini.” Kata Nana

“Hadeeeh…” Jawab gue sambil menepuk jidat.

 Kami berdua mulai berjalan menuju ke kantin, dia mulai tersenyum kecil saat matanya mulai menemukan pujaan hatinya itu. Gue yang selalu perhatiin dia, hanya bisa melihat dengan pasrah. “Dasar loe Na, nggak ada peka-pekanya sama sekali ke gue.” Gue menangis dalam hati.

“Yang, tungguiiin…” Terdengar suara cewek dari arah belakang.

Secara refleks kamipun menoleh, ada cewek yang sedikit berlari mendahului, dan mulai berjalan menghampiri seorang cowok. Cewek itu menggandeng sebuah tangan, dan tangan itu adalah tangannya cowoknya Nana. Eh, maksud gue cowok yang disukai Nana. Tratap…tratap..tratap… Yah, keluar deh air mata loe Na. Air mata Nana keluar begitu saja membanjiri tandah yang tandus ini. Sambil menatap nanar sepangsang kekasih yang ada di hadapannya, Nana tidak henti-hentinya menangis.

“Sudahlah Na.” Gue balikkin badanya dia, terus gue ajak Nana menjauh dari neraka itu. Lalu gue dudukin di bangku taman sekolah. Gue biarkan dia tenang, terus gue kasih air mineral ke Nana. Setelah dia minum seteguk ait dari dalam botol itu, gue coba ngomong ke Nana.

“ Jangan peduliin dia, masih banyak cowok lain yang mau sama kamu Na.” Gue coba hibur Nana.

“Hu…hu…hu…Uhuk, Uhuk. Hu…hu… sa…kit Yan, se….selama i…ni nggak ada yang cinta ma gue, tapi pas gue mulai jatuh cinta sama orang malah dia udah punya cewek lain Yan. Hu..hu… ceritanya sambil nangis sesenggukkan.

“Hah, berati selama ini cowok yan selalu di sampingmu ini nggak loe anggep Na.” Kata gue.

“Gue dari dulu udah jatuh cinta sama loe Na, tapi loenya aja yang nggak sadar.”

“Ih, Iyan gue lagi serius ini.” Gue didorong dari bangkunya.

“Taukah loe Na, gue akan selalu ada di saat loe butuh. Gue rela berkorban demi loe, gue hanya ingin loe bahagia Na. Gua bakal setia nunggu loe Na, gue bakal bersabar agar suatu saat nanti loe ngerti bahwa gue selama ini mencintaimu Na.” Tapi ternyata, seluruh isi hati gue ini tak bisa kuutarakan. Hanya karna kita sahabat, gue nggak mau kalau persahabatan kita jadi rusak karena cinta.

Dibalik Denda dan Penjara

Pasal-pasal yang isinya membuatku ketawa, nggak bermutu dan seperti mainan anak-anak. Kalimat-kalimat yang isinya gemblung dan ngawur semua, mana mau diterima. Jika dirangkum jadi satu, sebenarnya isinya tentang denda dan penjara. Bukan berisi tentang manusia yang selayaknya. Bukan berisi tentang perlindungan dan penjagaan, tapi berisi tentang kenikmatan suatu pihak tertentu.

Suatu ketika ada yang bertanya, bertanya kepada segerombolan manusia. Manusia itu hidup di dalam sebuah negara. Negara yang sesungguhnya dicintai bersama. Namun ternyata di dalamnya penuh luka lara. Penuh aroma busuk dan butuh obat untuk menyelamatkannya. “Menurut kalian apa itu kepanjangan DPR?” katanya.

Kemudian ada yang menjawab. “Hah, DPR itu apa?” jawaban dari rakyat yang versinya tidak tau apa-apa.”

“Kalau kamu?” katanya lagi sambil mengacungkan mice kepada rakyat lainnya.

“DPR, itu Dewan Perwakilan Rakyat.” Kata rakyat versi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

“Kalau yang lain?” katanya kembali.

“Kalau saya, mereka adalah Dewan Pengkhianat Rakyat.” Kata rakyat dari versi kalangan yang ingin maju, ingin menang dari mereka yang pikirannya salah kaprah.

“Ada jawaban lain?” katanya untuk yang kali terakhir.

“Kalau menurut saya kepanjangannya adalah Dewan Penindas Rakyat.” Kata rakyat  dari versi yang merasakan begitu pilu dan begitu sedih karena negaranya menjadi seperti ini.

“Mereka itu gila, di dalamnya hanya ada curhatan hati yang isinya menjatuhkan perempuan. Setelah itu sanksinya berupa denda, dan penjara. Sedangkan yang isinya merugikan negara saja, sanksinya hanya penjara (2 tahun). Edan bukan.” Katanya Rakyat yang versi curhat.

“Iya, kalau isinya tentang penjara, penjara bisa penuh ya.” Katanya menjawab.

“Permasalahannya bukan penjara bisa penuh. Tapi permasalahannya, selama ada mereka dan cara pemikirannya yang begitu, penjara penuh, mereka bisa bikin lagi. Gampang toh, mereka kan merasa berkuasa. Permasalahannya yaitu, bagaimana cara rakyat menjinakkan mereka, mengubah daya pikir mereka. Kan sesungguhnya, di negara ini yang berkuasa adalah rakyat eg.” Kata rakyat lain versi yang mendukung.

“Katanya group Band *** yang di dalam liriknya itu, Untuk Indonesia jadilah legenda!” Saya setuju dengan liriknya, tapi sebelum itu kita berantas dulu kebodohan dan keserakahan pihak-pihak tertentu.” Katanya rakyat yang versinya aliran music.

Lontong

 Kau panjang nan memuaskan
Kau idaman untuk setiap insan
Siapa setuju, acungkan tangan

Kau lembut enak di mulut 
Dikunyah turun ke perut
Rasa lapar jadi good mood

Putih terbungkus daun pisang
Berwarna hijau jika sudah matang
Ku makan saat lebaran datang
Dipotong, campur opor, enaknya pool

Lontong…
Hanya kau yang kumau
Kau makanan tradisionalku
enaknya sungguh terlalu

Perut kenyang hatipun senang
Oh, wahai lontongku sayang
Kau sungguh makanan idaman
Tak ada yang bisa mengalahkan

Rasamu yang begitu menawan
Mudah digigit, mudah di telan
Oh, lontongku sayang
Terima kasih ya kawan...

Ayahku

 Waktu pasti berlalu 
Tanpamu kutak mampu
Waktu demi waktu
Kau bekerja sepanjang waktu
 
Kau habiskan tenagamu
Demi anak dan istrimu
Oh ayahku…
Kau tulang punggungku

Andaikan kubisa bantu
Karnaku tak punya waktu
Waktu terus mengejarku
Tuk selesaikan sekolahku
 
Mungkin sewaktu – waktu
Kan kutepati janjiku
Bekerja menggantikanmu
Dan setelah itu Nikmati hari tuamu

Loe yang Nggak Pernah Sadar

Kulihat dia begitu serius memandangi papan tulis itu. Jika 0,707X = 6,363 dan Y = 373,80 : 42 maka… Kudengar guru gue jelasin dengan merangkai soal-soal tersebut dalam papan tulis putih itu. Dan loe terus melongo memperhatikan rumitnya soal-soal itu. “Kring… Kring…” Bel istirahatpun berbunyi. “Na, lagi apa, ke kantin yuk.” Nggak ndengerin. “Naa…”Gue panggil lagi,,masih sibuk dengan bukunya. “ Naa, ayoo ke kantin…” Gue ajak kembali sambil mengambil bukunya yang sedang dia goreskan angka-angka matematikanya yang tak kunjung usai. “Ih, Iyan balikkiiin.” Baru menjawab. “Ini kan istirahat, ayo ke kantin, belajarnya di terusin nanti lagi yah.” Sambil mencubit pipinya yang tembem, gue seret Nana menuju kantin.

Begitu besarkah impian loe Na, sampai-sampai loe disibukkan dengan buku-buku itu. “Ih, Iyan lepasin.” Ronta dia. “Makan dulu, nanti laper.” Sambil berjalan disampingnya, gue mulai ngomel-ngomel. “Na, ntar malem main yuk, ke mana kek gitu.” Terus abis itu, nonton juga boleh, eh makan dulu juga boleh. Gue tengok dia, dan ternyata sedang diam memperhatikan sesuatu. Ah, ternyata ocehanku tak digubres sama sekali. OK, nggak papa, pantang menyerah. “Na, loe liat apa sih?” Tanya penasaran. “Na…” Gue kibas-kibassin tangan gue berulang-ulang ke wajahnya. “Ah, enggak, nggak kok, nggak liat apa-apa..” Jawab dia ketika tersadar. “Yan, abis ini temenin gue ke perpus dong.”

“Iya deeh, apalah yang nggak buat loe Na.” Gue jawab dengan enteng. “Hehee… Loe emang sahabat gue yang terbaik deh.” Sambil nyengir Nana menyanjung.” Ya iyalaah, sahabat yang terbaik, orang sahabat loe cuma gue doang.” Hadeeeh… Dia tersenyum kecil. “01 MENIT TAKLUKIN CEWEK.” “Eh, Na, loe percaya nggak sama judul buku ini. Nggak mungkin banget deh, masak dalam waktu satu menit.” Sambil gue sodorkan buku itu ke depannya, yang gue ambil dari deretan rak-rak yang bertajuk tentang cinta. Yah, dicuekin lagi gue. Hadeeh… Tiba-tiba terseyum sendiri, kutelusuri arah pandangnya dan juga senyumannya. Ah, ternyata dia lagi naksir seseorang.

“Ehem.” Gue mencoba berdeham sekeras mungkin. “ Eh iya, kenapa Yan?” Jawab Nana dengan kaget. “Nggak jadi, udah gue telen.” “Sebel ya, maaf deeh…” Seru Nana. “Loe tadi lagi ngilatin apaan sih?” tanya gue mencoba memastikan. “Mmm, nggak lagi ngliatin apa-apa kok.” Jelas Nana. “Lagi ngliatin cowok ya, hayoo ngakuu…” Jelas gue sambil ngeledek. “Eh, diem. Eh, Yan. Eh… Jangan bilang sama siapa-siapa ya.” Nana menjawab dengan begitu kikuknya. “Hihiii, akhirnya ketahuan juga loe Na, iya, nggak bilang siapa-siapa kok.” Jawab gue sambil terkikik. Yah, ternyata Nana jatuh cinta sama cowok lain (gue berpikir). Kenapa malah suka sama cowok yang loe gak kenal sih Na. Hadeeh… Salah apa gue (gue berpikir kembali). Pagi ini, gue samperin dia di bangkunya. “Ehem, mbak kenalan dong.” Gue jahilin Nana. “Ih, apaan sih Yan.” Kata Nana sambil mukulin tangan gue.

“Hehe… habisnya pagi ini loe kelihatan beda Na. Lagi sakit ya, apa lagi demam.” Jawab gue sambil megang jidatnya Nana. “Iya, emang gue lagi demam, demam cinta. Kenapa, ada urusan.” Jawab Nana dengan judes. “Oh, jadi loe tampil feminim kayak gini, gara-gara cowok kemarin yang di perpus itu, pantesan aja demam cinta. Orang loe bisa berubah drastis gini karena cinta.” Cerocos gue pada Nana. “Tapi, gimana penampilan gue, cantik kaan…” Jawab Nana sambil senyum-senyum sendiri.” “Mmm…” Jawab gue datar sambil tersenyum palsu. Padahal sebenarnya hati gue sakit banget coooeww. Ngliat loe begini karena cowok lain, bukan karena gue Na. Emang sahabat yang selalu di samping loe ini, enggak pernah loe anggap Na. “Hiks, hiks.” Duh gue pengen nangis dah.

Tunggu lanjutan ceritanya… 🙂

Lika-Liku Luka

Hai, aku adalah Luka, dan kamu adalah Bahagia. Luka dan Bahagia selalu bersama, tapi ketika Bahagia terlalu kuat becahaya, maka gelapnya Luka akan semakin pudar, dan Luka bakal terluka karena Bahagia. Pada waktu itu, Luka tidak sengaja bertemu Bahagia di sebuah acara, dan acara itu namanya PPAK (Penerimaan Pengenalan Arti Kehidupan). Sejak kali pertama bertemu, pada pandangan pertama Bahagia sudah menyukai Luka. Luka yang pada saat itu belum mengenal Bahagia, tidak pernah mempedulikan Bahagia. Setelah beberapa lama akhirnya Bahagia dan Luka saling merasa, dan rasa itulah yang dinamakan cinta. Di dalam arti kehidupan, cinta menjadi salah satu cerita yang paling banyak diminati orang dalam kehidupan. Kemudian terjadilah sebuah cerita yang begitu pahit dan yang tiada tara, namanya “Lika-Liku Luka.”

Cerita ini bermula dari Bahagia yang sudah membuat Luka jatuh cinta kepadanya. Namun, apa daya mereka yang 360 derajat terbalik selalu mengundang Luka dalam luka. Bahagia adalah seseorang yang sangat dikagumi manusia, terutama manusia yang bernama wanita. Bahagia terlalu banyak fansnya, dan lambat laun jadilah luka di dalam hati Luka, luka itu, namanya cemburu. Suatu hari, tanpa sadar ada seorang wanita yang menyukai Bahagia secara diam-diam, dan wanita itu adalah temannya Bahagia dan Luka. Dari gerak-gerik dan sikapnya, hanya Luka saja yang tau kalau wanita itu mencintai Bahagia.

Wanita itu begitu cantik dan indah, pintar dan pandai berbicara, selalu menang dalam perlombaan, dan tentunya jika digabungkan dengan Bahagia, mereka bisa nyambung dalam mengobrol. Mungkin karena Bahagia dan wanita itu sudah lama kenal dan sama-sama pandainya. Karena yang tau hanya Luka, maka Bahagia tidak sadar kalau wanita itu menyukainya. Ketika melihat Bahagia dan wanita itu berjalan beriringan, dan Luka hanya bisa menatap dari belakang. Mereka berdua begitu bahagia dalam canda tawa (peristiwa: Luka, Bahagia, Wanita itu dan ke-empat manusia lain sedang berjalan pulang setelah mencari makan).

Akhirnya Lukapun merenung dan merasa sedih, luka yang keduapun muncul dalam Luka. Luka yang dirasakan Luka untuk kedua kalinya namanya adalah minder, minder karena ternyata dia tidak lebih baik daripada wanita itu. Meskipun Luka terluka yang begitu luka, Luka tetapi menjalani kehidupan seperti biasanya. Hari demi hari Luka lalui, Luka kini sudah tidak bersama Bahagia. Karena acara yang diselenggarakan telah usai, Luka tidak ada alasan untuk terus tetap di sana. Meskipun ada Bahagia, Luka tetap pergi, karena mungkin Bahagia tidak begitu menginginkannya. Luka tetap terus hidup, karena ajal belum menjemputnya. Luka juga tidak mau mati begitu saja, Luka masih punya teman yang begitu menyayanginya. Tapi tiada waktu, tiada hari, tiada bulan, dan tiada tahun Luka selalu memikirkan Bahagia, dan karena tak kunjung temu, Luka akhirnya mendapat luka yang baru. Luka itu memang tersirat, tak tampak di mata tapi terasa di hati. Luka itu namanya adalah rindu, Luka begitu merindukan Bahagia karena sudah tidak bertemu setelah sekian lamanya.

Sampai suatu ketika Luka melihat Bahagia bersama sahabat wanitanya sedang bernnyanyi. Lagunya bertajuk pupus, dan katanya bahwa cinta mereka ternyata bertepuk sebelah tangan. Duaarr, Luka begitu hancur melihatnya, mendengarnya saja, sudah meremukkan hati. Kenapa Bahagia berpikir seperti itu, bukankah Bahagia juga tau kalau Luka juga mencintainya. Kenapa? Mungkin Bahagia curhat kepada sahabat wanitanya itu tentang Luka, dan sahabatmu itu menyimpulkan bahwa Luka tidak mencintai Bahagia. Yah, wajar saja karena begitu dekat mereka saling mempercayai satu sama lain. Mungkin saja sahabat wanitanya itu juga mencintai Bahagia secara diam-diam, dan Bahagia lagi-lagi tidak menyadarinya.

Luka kembali terluka, luka terus menangis tanpa henti, Luka begitu hancur dan kehancuran itu namanya kecewa. Kekecewaan terhadap Bahagia yang tidak mempercayai hatinya, dan lebih percaya kepada temannya. Kemudian luka yang berikutnya terjadi setelah itu, sempat mendapat kabar dari beberapa orang bahwa Bahagia ternyata banyak wanitanya. Bahagia sering pergi berkuda bersama seseorang yang di sebut wanita, dan hal itu juga banyak orang yang telah melihatnya. Tapi Luka tetap tidak percaya, dan sampai pada akhirnya Luka melihat sendiri. Luka melihat Bahagia sedang berkuda bersama seorang wanita, kuda itu kalau tidak salah bernama vario. Meskipun Bahagia bertopeng ketika berkuda bersamanya, Luka tau kalau itu ada Bahagia. Karena Luka, mungkin begitu mencintai Bahagia sehingga mata dan hatinyapun tau kalau dia adalah Bahagia.

Luka selanjutnyapun terjadi, luka yang di alami Luka kali ini namanya adalah ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan akan adanya cinta yang tulus, semuanya hanya bohong. Setelah itu, akhirnya Luka memutuskan untuk mengeraskan hatinya kembali, Luka sudah tidak mau berurusan dengan yang namanya cinta. Karena dengan hadirnya cinta ternyata tidak mengundang bahagia, tapi malah mengundang luka. Jadi, Luka akhirnya memutuskan untuk membenci cinta.

Itulah Lika-Liku Luka dalam kehidupan nyata. Luka yang hadir bertubi-tubi, berlika-liku dalam drama manusia di kehidupan yang namanya dunia, dan akhirnya muncullah Lika-Liku Luka, ada rasa cemburu, minder, rindu, kekecewaan, ketidakpercayaan, dan kebencian akan cinta. Memang pada dasarnya Luka dan Bahagia tidak seharusnya bersama, mereka tidak bisa saling beriringan. Luka gelap, dan Bahagia adalah terang, gelap dan terang tidak bisa saling menyatu. Karena pada dasarnya sifat mereka adalah saling mengalahkan dan bertolak belakang. Meskipun tanpa sadar Bahagia tidak merasakan itu, Bahagia yang selalu mencintai Luka tidak pernah tau apa isi hati Luka yang sebenarnya,  dan Lukalah yang akan semakin terluka akannya. Ya Tuhan, adakah jalan untuk Luka dan Bahagia agar bisa bersatu…Karena sesungguhnya, antara Luka dan Bahagia, mereka saling jatuh cinta.

Pak Maman

Kau tau aku bukan! Aku adalah manusia, namun lain dari manusia lainnya. Namaku adalah nama yang sebenarnya tak ingin kalian sebut. Jika kalian mendengarnya, mendengar seorang mampu menyebut namaku, maka dalam hitungan detik kalian pasti akan terhasut setan untuk menemuiku. “datanglah… datanglah… datanglah…” mulai kuucapkan kata – kata yang merasuki pikiranku. Kenapa, apa aku begitu menakutkan untuk kalian lihat, untuk kalian dengar, atau malah aku menggairahkan untuk kalian. Tentu saja jika kau terlanjur menyebut namaku, kalian tentu tau apa yang akhirnya kulakukan kepada kalian. Aku mampu membuat kalian menderita, dan aku juga akan merampas harta yang kalian punya.

Jika aku yang meminta, kalian pasti terhipnotis, dan pasrah memberikannya. Jika aku minta satu lembar, kau menurutiku,  jika aku minta dua atau tiga lembar, kau juga menurutiku. Bahkan jika aku minta berlembar – lembar, kau rela memberikannya kepadaku. Kalian memang tak waras jika bertemu denganku. Semua akal pikiran dan egomu tidak dapat kalian kendalikan. Sekali saja kalian melihat diriku, dalam sekejap kalian pasti terpikat kepadaku. Tertarik dengan apa yang kubawa, apalagi bagi kalian para kaum hawa. Jangan sekali – kali kalian mendekatiku, jika terjadi maka akan kubuat muka kalian berantakan. Dan setelah itu, kalian hanya bisa menangis tak berdaya. Meski tak mampu untuk menghentikannya, tak apa, bukankah itu mau kalian. Masih kutunggu mangsa – mangasaku datang, meski belum tampak seekorpun, tak apalah aku masih sabar menunggu disini. Jika boleh jujur sebenarnya aku juga tak tega melakukan ini. Namun apa daya, hanya ini yang aku bisa. Ya, satu – satunya keahlianku dan yang kubisa hanya merampas harta – harta kalian.

“Sudikah kalian memaafkanku.” Kata hatiku sambil terkikik merasa tak bersalah.

Toh, setelah aku merampas uang kalian, aku juga memberikan imbalan kepada kalian. Meski imbalan itu yang membuat kalian sengsara. Namun, bukankah yang kuberikan juga membuat kalian bahagia kok. Maksudnya bahagia bagi para penikmatnya. “Marahkah kalian kepadaku, jika aku melakukan ini!” Setiap mangsa yang kutanya pertanyaan itu, semuanya hanya bisa diam. Tak mampu mereka menjawab. Mereka hanya bisa menangis di hadapanku. Menangis sambil menikmati imbalan yang kuberikan kepada mereka. Tak lupa aku juga memberikan segelas air putih kepada mereka yang menyerah karena tak kuat lagi. Hari semakin siang tetapi saat semakin siang malah semakin  banyak mangsa yang kudapat, juga semakin banyak uang yang kuperoleh. Saatnya aku mulai berkasi.

“Ruujak, ruujak, rujaak buah Pak Mamaan.” Kukeluarkan jurus jituku dengan keras-keras.

“Rujak buah segar, cuma sepuluh ribuaan.”

“Pak, Pak Maman tolong berhenti.” Terdengar suara memanggilku.

Kalau sudah ada yang memanggilku, apa daya. Mereka yang mendengar namaku, pasti akan terhasut ingin menemuiku. Jelas ternyata terbukti, setelah aku berhenti terdapat tiga mangsa yang menghampiriku. Kemudian satu persatu berhamburan lagi. Kebanyakan mangsa-mangsaku adalah para wanita. Entah wanita single, jomblo, bersuami, cantik, atau wanita yang lainya, semuanya memilihku. Memilih apa yang dapat kusajikan dan sampai membuat mereka bernafsu. Bernafsu untuk membeli lagi, dan lagi. Entah di lain hari atau di lain waktu. Mereka para kaum wanita pasti tergiyur saat melihatku.

“Pak Maman, beli rujaknya satu, cabenya sepuluh ya Pak.” Kata salah satu seorang pelanggan.

“Siap Neng, kalau ntar mencret jangan salahkan saya ya Neng. Heheee” Jawabku sudah mengingatkan.

“Kalau saya dua belas aja Pak.” Kata salah satu pelanggan lainya.

“Okay, siap Neng. Tunggu sebentar ya.” Jawabku.

Rujak buah karyaku ini memang sangat terkenal di daerah ini, banyak yang menyukai rujak buah buatanku.Mereka makan rujak buatanku dengan lahap, kadang-kadang ada yang sampai menangis. Dengan semangkuk rujakku itu, mereka bisa menjadi diam seketika dan keringat-keringat mereka sampai bercucuran jatuh ke bumi. Tapi kalau sudah begitu, ketika sampai pada suapan terakhir, mereka akhirnya mengeluarkan berlembar-lembar uang untuk kurampas secara baik-baik. Karena aku tidak sombong, jika uang mereka bernominal terlalu banyak, maka akan ku kembalikan dalam jumlah yang pantas. Jadi, kita impas kan… Antara pemburu dengan mangsa yang kuburu.

Imajinasi Penuh Karya

“Hai, para pecinta imajinasi!”

Berdasarkan penelitian, orang yang suka berimajinasi itu tandanya kreatif hlo, mampu menajamkan otak, menambah rasa empati, menajamkan memori, serta mampu mengeksplorasi diri. Jadi, marilah kita… Ber-iimaaaaaaaajinasi.

Berimajinasi itu bebas, tidak ada hukum yang berlaku untuk berimajinasi. Tidak ada hak dan kewajiban dalam berimajinasi, apapun yang kumau pasti bisa kuciptakan dalam imajinasi kecilku ini. Sesuai dengan postingan blog aku ini, mayoritas selalu menceritakan berbagai ragam imajinasi. Di sini, imajinasiku kutuangkan dalam berbagai macam bentuk tulisan, ada cerpen alias cerita pendek, puisi, dan motivasi yang dalam penyampaian pesannya kuibaratkan dengan suatu hal atau seseorang yang muncul dalam imajinasiku secara tiba-tiba.

Jadi, tulisan yang penuh dengan imajinasi itu namanya fiksi. Fiksi di sini kalau diwujudkan dalam tulisan, maka akan berbentuk sebuah perumpamaan dan biasanya pesannya pun kadang tersembunyi. Aku beranggapan bahwa fiksi itu sama seperti diriku. Bebas, lepas, dan tidak ada yang mengekang. Jadi dengan begitu aku bebas mengekpresikan karyaku dalam berbagai bentuk apapun. Fiksi itu mampu memperdaya otak manusia, bagi para penulis maupun pembaca, fiksi mampu membuat kita berandai-andai.

Tapi bukan berati fiksi itu penuh dengan khayalan semata. Fiksi itu kadang mampu dikombinasikan dengan kehidupan nyata. Misalnya saja, cerpenku yang bertajuk Nana Si Batu Berlumut. Jika diibaratkan orang, mungkin di dunia yang seluas ini, cerita itu pasti ada. Tapi bisa kujadikan cerita itu menjadi sebuah makhluk lain seperti tumbuhan dan batu yang kuberi nama, dan kubuat cerita semata-mata mereka bisa bicara dan bisa berkativitas seperti manusia, punya hati dan mata. Juga bisa menangis ataupun bahagia.

Seperti kebanyakan karyaku di blog ini, semuanya penuh dengan fantasi. Mulai dari gambar sampai ceritanya. Gaya bahasa di dalam tulisan fiksi juga bisa dituliskan dengan bahasa kita sehari-hari, bisa juga dengan bahasa sendiri yang kita buat. Seperti halnya di dalam cerita- ceritaku yang kubuat di blog ini. Bahasa di dalam fiksi itu lebih santai dan tidak kaku, seenaknya, dan bisa dibuat semaunya si penulis. Seenaknya… Ya, sesuai dengan diriku ini. Berkarakter yang seenaknya, dan berbuat semaunya, sangat memungkinkan kalau ketika menulis, pilihan pertamaku adalah fiksi.

Selain itu, karena aku hobinya juga berkhayal. Jadi, pas banget kan… Khayalanku ini bisa kucurahkan dalam bentuk tulisan, semua yang ada di otakku ini biar keluar semua. Fiksi itu sungguh membantuku, membuat khayalanku jadi bermanfaat. Kalau mau curhatpun tentang kehidupan pribadi, bisa disamarkan hlo kalau ditulis menjadi fiksi. Untuk menentukan tokoh utamanya juga semau kita, kalau di kehidupan nyata sebenarnya tokoh utamanya aku, di tulisan fiksi bisa kuubah tokoh utamanya adalah kamu.

Semoga dengan cerita=ceritaku ini pembaca mampu terhibur dan bakalan bermanfaat akan pesan moralnya. Kemudian, semoga apa yang kutuliskan tersampaikan kepada kalian, dan mampu membuatku untuk menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi dan hal menulis dan berimaaajinasi. Aamiin!

“Jadi, selamat berkaryaa!”

Kematian

 Ragaku tak berarti tanpa nyawa
Kau yang tak bernyawa
Seperti pena tanpa tinta
Tak berguna tanpanya
Kau kosong dan kosong tiada tara
 
Tak berarti apa – apa
Tak ada cahaya dalam raga
Jika tinta di pena dapat diganti
Dengan sejuta tinta di bumi
Namun, satu nyawa yang berarti
 
Tak kau jaga dengan sepenuh hati 
Hanguslah jika pergi
Dan pada akhirnya kamupun mati
Waktu takkan mampu menunjukkan
Takkan mampu memberi tanda
 
Tak ada yang bisa memberi tahu
Jika takdir telah berkata
Dan itulah saatnya tiba
Pasti akan binasa selamanya
Wahai engkau manusia

Bersiaplah menemui ajalmu
Kematian telah ditetapkan
Dan takkan ada ampunan
Darimu malaikat Tuhan
Dan Tuhan sudah tak bisa menyelamatkan

Anak Baru yang Dicintai

Penuh tanda tanya dan tidak ada jawaban pasti. Satu-satunya yang kulakukan hanya bertahan. Bertahanlah sebentar lagi, satu tahun lagi pasti lukanya akan sembuh. Jika belum sembuh, mungkin obatnya belum bereaksi, kalau begitu tunggulah dua tahun lagi. Mungkin lukanya akan tertutup, lalu sembuh. Jika masih terasa sakit, hal yang bisa kulakukan hanya perlu bersabar. Bersabarlah untuk tiga tahun lagi, bukankah tiga tahun sudah lama untuk menyembuhkan hati. Hati yang hancur akan dirimu, dan aku yakin pasti akan sembuh. Salahkah aku jika terlalu mencintai dirimu. Salah, yang seharusnya terlalu kamu cintai adalah Tuhanmu. Inilah konflik batin yang terjadi pada diriku saat ini.

Aku menjalani hari dengan penuh pilu, tanpamu di sisiku membuatku hampa. Waktu itu, aku anak baru yang tak sengaja datang ke duniamu. Aku yang anak baru memang tidak tau apa-apa, tidak tau tentang kamu, temanmu dan tentang kalian semua. Kamu terasa begitu dekat dengan mereka, begitupun dengan sahabatmu, dan aku cemburu. Meskipun begitu, aku adalah anak baru yang dicintai. Saaangat dicintai dirimu, begitupun juga dengan teman-temanmu (mungkin). Itulah yang kurasakan selama ini, aku dan kamu saling mencintai dalam diam.

Suatu ketika, kamu bersama sahabat curhatmu itu, menganggap bahwa cintamu bertepuk sebelah tangan. Aku hancur berkeping-keping, hatiku remuk lebur tak tersisa. Aku menangisimu, aku merindukanmu, aku sungguh tidak mengerti akan dirimu. Wajar saja, aku hanya anak baru dalam hidupmu. Kalian sahabat sejati begitu mempercayai satu sama lain, dan aku… Hanya sebutir upil. Setelah itu, aku tetap melanjutkan perjalananku. Meskipun di dalamnya aku merasa koma, tapi aku tidak boleh menunjukkannya kepada siapapun. Agar mereka yang menyayangiku, tidak menghawatirkanku. Sungguh, aku tidak papa. Jadi, aku ceria seperti biasanya.

Suatu hari aku bertemu dengan dia, Roy namanya. Roy yang kini sering kupanggil dengan imbuhan Kak sebelum namanya kusebut mungkin bisa dibilang, sedikit mengerti akan diriku. Kak Roy yang begitu setia memahamiku, mempercayaiku, menjagaku, dan merawatku. Meskipun dibilang, aku anak baru yang hadir di dalam hidupnya. Dia sungguh tulus menyanyangiku, menjadi penyangga setiap kelemahanku, menjadi tiang untuk mengokohkanku di saat aku rapuh. Kak Roy tidak mencintaiku, tapi saaangat menyanyangiku. Dia menganggapku seperti adiknya sendiri, begitupun sebaliknya, meskipun tidak ada hubungan darah setetespun di antara kami.

Selamat tinggal hari, kini aku menjalani hariku yang baru. Meskipun masih ada kamu dalam bayangku, aku tetap harus melangkah lebih maju. Kata Kak Roy sih begitu, tapi ternyata cobaan masih membelenggu. Ketika aku pergi ke festival makanan di daerah Kak Roy tinggal, Kak Roy membawa teman kuliahnya. Saat itu aku terpaku membisu, melotot ke arahnya. Sangka tak disangka, ternyata teman Kak Roy adalah kamu.

“Kenapaaaa!” Aku begitu heran.

Aku dan Kamu saling melihat, saling menatap dalam waktu yang lama. Setelah itu, kuabaikan kamu dan kembali bicara kepada Kak Roy.

“Karena kita kemarin seri dalam taruhan (perlombaan main game memasukkan bola basket), maka Kak Roy traktir aku dan aku traktir Kak Roy, Yokay?” Kataku kepada Kak Roy.

“Yokay.” Balas Kak Roy sambil mengacungkan jempol.

“Kalau begitu aku minta dibelikan gurita bakar, sosis bakar yang besar, sama minuman mojitoss, kalau Kak Roy minta dibelikan apa?” Tanyaku kepada Kak Roy.

“Emm, aku mau dibelikan telur gulung, sama jus mangga.” Jawab Kak Roy

Kemudian kamipun menyebar, karena ramainya keterlaluan. Aku sampai jatuh tersungkur saat berdesak-desakan membeli telur gulung untuk Kak Roy tersayang. Setelah itu kami kembali ke tempat yang dijanjikan. Kami duduk bertiga di sebuah kursi panjang, dan aku berada di posisi di antara mereka.

“Dek, kalau kamu deket-deket sama Kak Roy terus, pasti orang yang menyukaimu bakalan jealous ya.” Kata Kak Roy sambil makan telur gulungnya.

“Kita seperti kekasih yang tak terpisahkan, padahal kan kita kakak beradik.” Kata Kak Roy menambahkan.

“Emm, begitupun sebaliknya, kalau aku melihat orang yang kusukai begitu dekat dengan sahabat wanitanya, akupun akan merasakan hal yang sama.” Balas kepada Kak Roy.

Aku mendengar orang yang tersedak, dan kamulah yang tersedak. Kamu makan dengan benar, tapi kenapa tersedak. Kenapa, apa mungkin kamu sudah mulai menyadarinya. Atauu… Argh, aku benar-benar tidak mengerti akan dirimu.

“Nah, jadi…”

“Bagaimana rasanya, sakit bukan!” Jawabku menambahi.

Dan secara reflek kamu menengok ke arahku.

Pecundang yang Baik

Namanya Rin. Masih bernafas, tampang pas-pasan, seorang laki-laki, dan seorang pecundang. Semua orang membencinya, semua orang  merendahkannya, dan semua orang tidak mempercayainya. Rin selalu dianggap enteng oleh siapapun, Rin selalu diremehkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Tidak ada yang mendukungnya, dan tidak ada yang mempedulikannya. Karena Rin, adalah seorang pecundang. Rinpun juga menyadari bahwa dia tidak punya kekuatan sama sekali, kekuasaanpun tidak punya sepeserpun. Sehingga, Rinpun menyetujui jika orang-orang menyebutnya sebagai seorang pecundang.

Rin tidak merasa sakit, ketika mereka memberikan label kepada Rin dengan cap pecundang. Rin malah berterima kasih kepada semua orang yang memberikan label dengan nama “PE-CUN-DANG.” Kenapa Rin dinamai pecundang, karena Rin selalu kalah dalam pertarungan. Rin terlalu lemah untuk menjadi pemenang. Tidak cerdas, tidak punya teknik, tidak punya uang, dan tidak punya kekuatan. Satu-satunya senjata yang dipunyai Rin adalah kebodohannya yang tiada tara. Kebodohannya yang tidak mengakui bahwa dirinyalah yang sesungguhnya lemah. Udah tau lemah, dia selalu mencoba dan terus mencoba. Sudah tau kalah, dia begitu egois tidak menerima kekalahannya. Bukankah Rin begitu bodoh.

Rin adalah seorang pecundang kehidupan, jurusannya adalah masa depan pecundang. Setiap kali mengikuti ujian kenaikan tingkat, Rin selalu gagal dalam tes otak, tes finansial, maupun tes kemampuan. Meskipun sudah berlatih berulang kali, dan sampai berkali-kali Rin tetap saja menjadi pecundang. Rin berlatih lebih keras dengan siswa-siswa yang lain. Karena ketidakmapuannya itu, Rin ingin dikeluarkan oleh organisasi sekolah. Organisasi sekolah merupakan organisasi pengurus dan juga yang mengamati setiap kemampuan siswanya. Sedangkan Rin, adalah seseorang yang tidak mahir dalam hal apapun. Rin adalah satu-satunya pecundang yang harus dikeluarkan.

Suatu hari, terjadilah proses pengeluaran Rin dari sekolah kehidupan. Rinpun hanya tersenyum bahagia, tidak menunjukkan rasa sedihnya, dan tidak protes sekalipun. Semua orang di organisasi sekolahpun menjadi bingung akan sikapnya Rin.

“Kok, ada ya orang seperti itu, sungguh aneh sekali.” Kata salah satu anggota organisasi.

Meskipun begitu, Rin melanjutkan hidupnya. Rin terus belajar dan berusaha, lebih keras lagi, dan lebih keras lagi. Dan terjadilah DIA yang melihat bakat Rin yang terpendam. DIA memungut Rin, dan sebelum itu DIA bertanya sesuatu kepada Rin.

“Nak, kamu sudah dibuang, kamu adalah pecundang kehidupan, kenapa kamu tetap berjuang demi masa depan?” Kata DIA

“Aku di sini, karena diciptakan Tuhan. Jadi karena sudah diciptakan, aku merasa pasti ada gunanya aku dihidupkan. PASTI!” Rin berbicara dengan keyakinan hatinya.

“Jadi, yang kulakukan saat ini hanya tinggal mencarinya saja, sampai aku bisa menemukan bahwa aku itu berguna.” Kata Rin menambahkan.

“Baiklah kalau begitu, karena kamu istimewa Aku akan melatih dirimu. Kamu itu berbeda, jadi perlakuanyapun juga harus berbeda. Kamu memiliki jiwa yang tak mau menyerah pada keadaan, dan itulah yang membuatmu terus berjuang dan berjuang. Dengan begitu meskipun kamu pecundang, tapi kekuatan pecundangmu itulah yang mampu mengalahkan orang lain. ” Kata DIA kepada Rin.

“Orang lain tidak punya jiwa tidak pernah menyerah sekuat itu Nak…”Kata DIA meyakinkan.

Setelah itu, Rin bersama DIA terus berlatih dan berlatih, terus mencoba, terus berusaha, dan sampai pada saat itu juga Rin membuahkan hasil. Hasil itulah yang dinamakan pengalaman dan sebuah ilmu. Dengan berbekal pada pengalaman dan ilmunya itu Rin seorang pecundang akhirnya menjadi seorang pemimpin kehidupan. Rin menemukan bahwa dirinya memang benar-benar berguna bagi dunia ini. Rin kini menjadi pemimpin mampu memimpin bermiliyaran orang di dunia ini. Menjadi pemimpin bagi orang-orang yang telah mengatainya pecundang, Rin mampu memberikan sumber kehidupan dan kenyamanan untuk orang lain. Mampu memberikan pekerjaan, keperluan serta kemakmuran mereka. Dan inilah cerita Rin seorang pecundang. Untuk menjadi pecundang yang baik, Rin hanya butuh dua modal saja, yakni tidak pernah menyerah pada keadaan dan kepercayaannya kepada DIA (Tuhan Yang Maha Esa).

Pecundang yang baik adalah orang yang tidak mau menyerah pada keadaan, tidak mau mengalah pada kegagalan. Meskipun seribu kali terjatuh, dia juga akan terbangun seribu kali lagi. Pecundang yang baik, akan belajar dari pengalaman, akan menjadi tangguh, lagi, lagi, dan lagi. Pecundang yang baik tidak menganggap kegagalan sebagai sebuah kemalangan, tapi menganggap kegagalan sebagai sebuah kesempatan. Pecundang yang baik tidak menganggap kegagalan sebagai jurang keputus asaan, tapi menganggap kegagalan sebagai harta karun ketidakpuasan. Ketika gagal, kita akan rakus pada sebuah pembelajaran, ingin lebih tau lagi, ingin lebih paham lagi, ingin lebih mengerti lagi, dan ingin lebih menguasai lagi. Dan pada akhirnya, pecundang yang baik akan menjadi pemenang, pemenang yang sejati.

Kepribadian Ganda, Alluka dan Nanika

“Hai, hai…”

“Ada yang suka anime?”

“Kali ini aku mau bahas antara Alluka dan Nanika yang memiliki kepribadian ganda, kalau pengen lebih tau, bisa nonton anime hunter x hunter yaa..”

Alluka dan Nanika adalah satu, tapi mereka memiliki karakter yang berbeda. Kepribadian ganda yang dialami Alluka bukanlah kepribadian seperti yang biasanya. Kepribadian ganda yang biasanya adalah kepribadian yang disebabkan karena adanya trauma ketika lahir. Namun Alluka sudah memiliki Nanika sejak dilahirkan. Mereka berbagi satu tubuh namun beda kemampuan. Alluka adalah seorang anak biasa seperti halnya anak-anak seusia Alluka. Sedangkan Nanika, dia mempunyai kekuatan yang mampu mengabulkan, merusak dan menyembuhkan seseorang atau makhluk lainnya.

Namun ketika seorang membuat satu permintaan, maka syaratnya yaitu harus mengabulkan tiga permintaan dari Nanika terlebih dahulu. Terkadang, Nanika kecil meminta sesuatu tanpa adanya permintaan dari orang lain. Misalnya saja, dia ingin digendong, main kuda-kudaan, adan diangkat tinggi-tinggi, apabila tidak dituruti oleh pelayannya, saat itu juga pelayannya akan hancur bekeping-keping. Nah, bagaimana… Serem bukan.

Alluka dan Nanika adalah satu-satunya yang berkemampuan iblis di keluarga Zoldyck. Keluarga Zodyck dikenal sebagai keluarga pembunuh bayaran. Tidak ada satu orangpun yang tidak mengenal kerluarga mereka. Namun karena bahayanya kekuatan Alluka, Alluka akhirnya dikurung di dalam ruangan yang penuh boneka, dan dilapisi dengan pintu gerbang besi yang berlapis-lapis. Karena kekuatan Alluka yang mampu menghancurkan orang tanpa ada sebuah tindakan, keluarga Zoldyck tidak menganggap Alluka sebagai anggota keluarganya. Kecuali kakaknya yang bernama Killua.

Killua adalah kakak ketiga dari Alluka. Killualah yang mampu mengerti dan memahami Alluka. Dia sangat mencintai Alluka. Suatu ketika Killua ingin membebaskan adiknya Alluka dari penjara keluarganya. Killua, Alluka, dan Nanika saling menyayangi satu sama lain. Hanya Killua yang mampu membuat permintaan tanpa ada syarat apapun dari Alluka dan Nanika. Namun keluarga Zoldyck tidak mengetahuinya.

Saat itu, Killua bersama ayahnya mulai membuka gerbang-gerbang yang mengunci Alluka. Kemudian Killua yang minta sendirian untuk bertemu Alluka akhirnya masuk ke dalam kamar Alluka. Kamarnya begitu luas dipenuhi banyak boneka. Tanpa sadar keluarga Zoldyck mengawasi mereka dari CCTV. Kemudian Alluka membuat tiga permintaan dari Killua.

“Onii-chan mati.” Kata Alluka dengan mengarahkan jari telunjuk dan ibu jari seperti membentuk pistol ke arah Killua.

“Hmm, Onii-chan mati.” Kata Killua dan setelah itu kepala Killuapun menghilang. Kemudian permintaan keduapun berlanjut.

“Onii-chan bangun.” Kata Alluka dengan bersemangat.

Killuapun terbangun tanpa ada kepala, dan ternyata kepala Killua disembunyikan ke dalam baju Killua seperti tidak terlihat mempunyai kepala. Kemudian permintaan ketigapun berlanjut. Kemudian setelah itu, Killua menggendong adiknya Alluka ke depan pintu. Killua meminta ayahnya untuk mebukakan pintu. Tapi ayahnya tidak mengizinkan Killua untuk membawa keluar Alluka. Akhirnya Killuapun membuat gertakana, Killua meminta Nanika untuk membunuh ibunya apabila mereka berdua tidak bisa keluar dari gunung (tempat tinggal keluarga Zoldyck) dalam waktu setengah jam, dan jika mereka mampu keluar, maka Killua meminta agar Alluka mencium pipi Killua. Kemudian ibunyapun tersentak kaget, dan akhirnya memencet tombol untuk membukakan pintu dari layar CCTV yang mengamati mereka.

Pada akhirnyapun, Alluka dan Nanika terbebas dari belenggu penjara. Killua yang masih menggendong Alluka akhirnya mendapat ciuman di pipi oleh adiknya itu. So sweeeeeeet…

“Onii-chan” dalam bahasa Jepang, sebutan untuk kakak laki-laki.

Ini, Indonesiaku!

“Salam Merdeka!”

Hai, aku adalah makhluk Tuhan yang diciptakan sebagai pribumi di negara ini. Negara mana… Yups, NKRI alias Indonesia. Siapa sih yang nggak kenal sama Indonesia. Indonesia yang begitu kaya akan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusianya. Indonesia adalah negara sub tropis yang ketika pada waktunya akan mengundang basah di tanah kelahiranku ini. Basahnya bumi ketika hujan mengundang anugerah.

Alam akan terjaga karena hujan, sumber air yang melimpah, sampai hati yang keraspun menjadi lumer terbasahi hujan. Memang, basahnya hujan itu suatu kenikmatan. Namun karena mayoritas rakyat Indonesia berotak jahanam. Basahnya hujan tidak akan menjadi anugerah, melainkan akan menjadi musibah. Musibah yang akan menjadi malapetaka.

“Kok bisa…” Kalian pasti berpikir seperti itu.

Mayoritas rakyat Indonesia tidak mencintai alam, mereka cenderung mengambil dan merusak. Mereka selalu membuang plastik di sembarang tempat. Cara yang instan adalah pilihan utama mereka. Contohnya saja, makan makanan yang berkemasan plastik, belanja dengan beraneka ragam tas plastik, alat serta kebutuhan rumah tangga selalu berplastik, minum juga dengan plastik, sampai-sampai untuk meneguk minumanpun juga harus menggunakan perantara plastik. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun selalu ada plastik. Untungnya, orang-orangnya juga bukan manusia plastik ya…

Udah gitu, rakyat Indonesia ituu… Juga tidak sabaran. Sukanya dengan hal yang berbau kecepatan, tentunya kenyamanan juga menjadi prioritas bagi beberapa orang. Bus-bus pemerintahpun menjadi semakin tidak berguna. Mereka lebih memilih menggunakan motor pribadi biar lebih cepat, dan lebih memilih menggunakan mobil pribadi atas dasar nyaman itu perlu.

“Kalian tau hukum sebab akibat kan…”

Karena ada sebab pasti ada akibat, dan akhirnya terjadilah hal yang namanya macet. Macet dimana-mana, dimana-mana pasti macet. Itulah jalanan Indonesia, Indonesiaku tercinta. Setelah ditarik kesimpulan, maka terjadilah rantai yang bernama siklus kehidupan Indonesia. Siklus yang pertama yaitu, rakyatnya banyak menggunakan dan membuang plastik sembarang. Ketika basah diterpa hujan, alamnya akan kebanjiran, semua selokan dan aliran-aliran air tersumbat plastik dan kebanjiran. Hah, itulah yang terjadi. Kemudian siklus yang kedua, rakyatnya banyak yang berkendaraan pribadi, efeknya ya, pasti macet dan mengundang polusi.

Dari aku yang ingin berubah, dari aku yang ingin mengubah, dan dari aku kepada teman-temanku. Bolehkan aku bertanya satu hal.

“Sudahkah, Indonesia merdeka?”

Untuk yang kali terakhirnya, dari aku kepada kalian semua. Kalian semua dari berbagai belahan negara. Aku ingin mengatakan bahwa Indonesia belum merdeka, Indonesiaku masih sengasara. Indonesiaku sedang sakit di dalamnya. Aku ingin menunjukkan kepada kalian bahwa ini, Indonesiaku, dan ini benar terjadi. Maka dari itu, marilah kita semua berusaha untuk sembuh dari rasa sakit ini. Dengan cara sadar dan senantiasa memperbaiki diri. Demi kita, demi Indonesia, demi NKRI tercinta.

“Salam Meredeka!”

Hilang

 Sulit untuk merangkai kata 
Tanpamu aku hampa
Hati ini telah tiada
Ditinggalkan belahan jiwa
 
Tak mampu kumenjawab 
Meski mampu kuucap
Tak mampu kumelihat
Saat dirimu menatap
 
Sungguh rapuh, rapuh, dan rapuh
Melihatmu mulai berjalan
Menghilang bagai bui
Ragam telah pergi untuk menjauhkan diri
 
Bayangmu mulai pudar
Terhapus oleh asa tanpa tersisa
Dan kini, hanya satu yang kau tinggalkan
Bekas kecup yang tersisa
 
Meninggalkan sejuta warna
Namun, tak apa sayang...
Kamu masih ada dalam kenangan
Dan kunikmati bersama rindu

Ratapan Rumah Kosong

            Ruang ini hampa tanpamu, aku kosong tak berpenghuni. Hanya kau yang bisa melepasku dari kesepian ini. Ah, kulihat mereka begitu cantik dan menawan seperti dirimu. Pantas saja, manusia sepertimu dianggap Tuhan sebagai makhluk paling menarik di antara semua jenis makhluk lain. Kalian para wanita memang berbeda, begitu mempesona dan menentramkan jiwa. Ku hadang mereka agar tidak pergi, aku membutuhkan teman. Aku ini terlalu kosong dan tak terurus, dari dasar lantaiku sampai ujung atapku seluruhnya begitu kumuh.

            Hah, meskipun begitu kalian tetap saja tidak mampu membukanya. Pintu ini takkan pernah terbuka untuk orang lain. Banyak para manusia seperti dirimu menjajalnya. Tetap tak pernah terbuka, tak ada yang mampu membuat duplikat kuncinya, tak ada yang mampu mendobrak pintuku satu-satunya. Kosong…. Aku masih kosong, kosong, dan kosong. Hanya sepercik bayang dan jejakmu yang tersisa di dalam rumah ini. Kau yang senantiasa merawatku, membelaiku dengan manja, kini pergi. Pergi entah ke mana, kamu meninggalkanku sendirian. Meskipun begitu, kau yang mampu membuatku tersenyum, kau yang mampu memberiku berbagai warna dalam hidup ini. Kau ini spesial, tapi kenapa kau pergi. Kau pergi bagai bui yang hanyut diterpa angin.

            “Aku akan kembali padamu.” Katanya.

            “Aku pergi, untuk meraih cita-citaku ini.” Katanya lagi.

            “Jadi, tunggulah sebentar.” Katanya setelah itu.

            Masih teringat akan kalimatmu itu, kalimat yang kini membuatku pilu. Jika takdir setuju, kau pasti akan kembali padaku. Cinta akan menuntunmu mencari jalan untuk pulang sayang. Kau membuatku begitu berharap sayang, tapi kau begitu menakutkan. Bagiamana jika kau tidak kembali, aku akan selalu kosong tidak berpenghuni. Lantai ini, membutuhkanmu untuk disapu. Tembok ini, akan selalu menjagamu dari mara bahaya. Atap ini, akan selalu menaungimu baik dalam keadaan sedih maupun bahagia. Semua perabotan di dalam rumah ini, sangat membutuhkan pelukkanmu. Kamu bagian dari hidupku, kamu begitu berarti.

            Kau membuatku menunggu begitu lama. Sabar, dan terus bersabar. Hanya itu yang bisa melakukan. Kenapa kau begitu kukuh akan tekadmu, kau malaikat penyelamatku, pulanglah. Kau jantung dan hatiku. Jadi, kau harus kembali ya… Semuanya tidak ada yang bisa menaklukanku, hanya kau satu-satunya. Kau yang mampu membuatku hidup kembali, kamu yang mampu membuatku seluruh bangunan ini kokoh kembali. Aku rela menunggumu begitu lama, karena aku adalah rumahmu. Rumah ini, adalah tempat di mana kau mengadu.

Kau yang mampu membebaskanku dari sesaknya dunia ini, yang membuat puing dan tiang-tiang ini semakin berkarat. Aku sudah begitu lusuh tak terawat, tembokku semakin berlumut penuh dengan kesedihan. Rumah ini rapuh tanpamu. Jadi, maukah kau membantuku, membantu mengisi kekosongan jiwa ini. Kau adalah juru kunci pintuku ini, kau satu-satunya yang berhak masuk dalam rumah ini. Karena aku selalu memilihmu. Baik dulu maupun sekarang, aku selalu memilihmu.

“Sayang, kembalilah.” Kataku untukmu.

“Aku merindukanmu!” kataku untukmu lagi (tapi kamu hanya di dalam imanjinasiku).

“Dan aku mencintaimu.” Sambil meneteskan air mata, ini kalimatku yang terakhir untuknya.

           Dan pada akhirnya, kukiriman ratapan rumah kosong ini kepadanya, wanita pujaanku. Agar kau mengerti, kalau sebentar lagi aku akan roboh.

Rey dan Reina

Aku ingin menulis untukmu, kekasihku yang istimewa. Kuteruskan buku ini hanya untukmu,  Untukmu Reina tersayang. Sebelumnya memang Rey sama sekali tidak tertarik dengan dunia kepenulisan. Tapi apa daya, ternyata alam telah menyeretnya ke dunia itu. Rey mau nggak mau harus melakukannya, demi Reina. Rey sangat menyayangi Reina, baik dalam keadaan apapun, dan sampai kapanpun Rey sungguh sangat menyayangi Reina.  Sampai suatu ketika Reina bertanya sesuatu kepada Rey. Meskipun saat itu, Rey masih tidak peduli dengan impian Reina.

“Dear, aku ingin menciptakan sebuah buku, menurut kamu gimana?” Tanya Reina kepada Rey dengan bersemangat.

“Itu bagus, tulis ajah.” Jawab Rey dengan santai.

Waktu itu, Rey dan Reina ingin pergi ke suatu tempat. Tempat itu adalah sebuah tempat yang begitu indah untuk dikunjungi. Di sana terdapat banyak pohon dan bunga-bunga bermekaran,  banyak burung dan hewan-hewan lain saling bertegur sapa. Berceloteh dan bercanda ria, angin dan dan suara air mengalir menentramkan jiwa. Rei dan Reina tidur di padang rumput yang dipenuhi berbagai macam bunga, sambil berpegangan tangan dan menatap kagum indahnya langit di atas sana. Bersama awan, dan langit yang saling melengkapi satu sama lain. Sorepun datang menghampiri, mereka kembali untuk pulang ke halamannya tercinta. Ketika di perjalanan, hal yang tidak direncanakanpun terjadi. Rei dan Reina mengalami kecelakan, mobil yang mereka kendarai tak sengaja tertabrak bus dari arah depan. Karena terkena sambaran pecahan kaca mobil, Reina kini menjadi buta. Sedangkan Rey meski dalam keadaan luka-luka, tapi Rey tidak ada luka cacat sama sekali.

“Dear, apa harapanku untuk menulis telah hancur?” Kata Reina

  “Nggak sayang, kamu masih punya tangan dan indera lain untuk menulis.” Jawab Rey sambil menatap Reina.

    “ Izinkan aku untuk menjadi matamu.” Lanjut Rey sambil menggenggam tangan Reina.

Reina tersenyum, sambil mengecup kening Reina, Reypun ikut tersenyum. Kemudian, waktu demi waktu, hari demi hari, Rey selalu menemani Reina menulis cerita. Rey selalu memandu Reina untuk menulis dan mengetik naskahnya sesuai dengan aturan dan jalan penulisan. Dengan sabar, Rey mengamati dan membetulkan setiap typo (kesalahan menulis pada setiap kata) yang dilakukan Reina. Pada suatu ketika, musibah lainpun terjadi. Ketika Reina pergi bersama kakaknya Rena, lagi-lagi terjadi kecelakan yang sangat tidak diinginkan. Motor yang mereka kendarai tergelincir oleh jalanan yang telah terbasahi hujan. Kemudian dari arah depan terdapat mobil yang melaju kencang dan tak sengaja melindas kedua tangan Reina. Kedua tangan Reinapun patah, sungguh malang nasib Reina ini. Hal itu memang tidak bisa dicegah karena kondisi ketika malam terlalu gelap dan waktu itu lampu jalan sedang rusak.

“Nah… Dear, apa sekarang aku juga masih punya harapan untuk menulis?” Tanya Reina dengan penuh kerapuhan.

“Tentu saja sayang, kamu masih punya aku.” Jawab Rey dengan air mata berlinang, mengalir bagaikan air terjun kesedihan.

“Izinkan aku menjadi tangan dan matamu.” Lanjut Rey sambil menatap Reina dengan lekat.

Reinapun masih belum kehilangan cahayanya untuk tetap melanjutkan impiannya. Dengan bantuan dari Rey, Reina masih tetap bisa menulis. Meskipun sekarang Rey yang menulis dan Reina yang memberikan ide dari setiap cerita yang ditulis Rey. Dengan semangat, Reina terus bercerita tentang apa yang dipikirkannya. Sedangkan Rey, mengetik sesuai dengan apa yang diceritakan Reina. Sampai pada akhir cerita, sikap Reina berubah. Reina sudah tidak mau lagi bercerita dan menyelesaikan karyanya. Reypun menjadi bingung karena sikap Reina. Kenapa tiba-tiba Reina bersikap seperti itu, murung dan gelap. Itulah yang dilihat Rey dalam diri Reina.

            “Sayang, kamu kenapa?” Tanya Rey dengan penuh hati-hati.

            “Hmm, aku nggak papa.” Jawab Reina dengan muka datar.

           Reypun semakin bingung menjadi-jadi. Hati dan pikirannya semakin tidak karuan, sesungguhnya apa yang terjadi pada Reina. Hatinya pilu melihat Reina yang selalu bersemangat menjadi murung dan diam dalam hidupnya yang kelam. Reina semakin menuju dalam dasar jurangnya kegelapan, lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi. Dengan begitu Reypun mencoba untuk menyelesaikan karya Reina. Mungkin dengan karyanya yang selesai, akan ada secercah cahaya yang membangkitkan Reina. Rey terus belajar, dan belajar lebih banyak lagi mengenai dunia kepenulisan. Sampai pada akhirnya Rey berhasil menyelesaikan karya Reina dan menerbitkannya. Suatu ketika Rey mengajak Reina ke sebuah tempat. Reina mendengar suara yang begitu ramai, semua orang seperti memanggil-manggil nama Reina berulang kali. Setelah duduk di suatu tempat, dalam sesaat suasana menjadi diam.

            “Untuk Reina kekasihku tercinta.” Terdengar suara entah dari siapa.

“ Reinaku sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku yang tidak mampu mengertimu, tapi aku akan selalu di sampingmu. Meskipun dalam keadaan apapun, meskipun  dalam keadaan tidak sempurna, aku akan selalu mencintaimu. Kemudian terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari berbagai penjuru. Reina bingung dengan situasi yang sedang dihadapinya.

“Rey, sesungguhnya ada apa?” Tanya Reina

“ Sayang, ini adalah karyamu.” Jawab Rey sambil memberikan sebuah buku kepada Reina.

“Karyamu telah menjadi buku best seller sayang, banyak orang yang menyukainya. Sekarang kita sedang ada di dalam jumpa fans para penulis-penulis best seller. Sekarang kamu punya banyak pengagum, kamu adalah panutan semua orang, kamu adalah motivasi semua orang. Ketika kamu menyerah, telah kuselesaikan bagian akhirnya, dan kuubah tokoh utamanya menjadi kamu. Lalu aku terbitkan dengan nama penulisnya adalah kamu, ya karena itu memang benar-benar karyamu, dan aku hanya alatnya saja. Jadi, jangan merasa terbebani akan diriku yang ikut campur dalam bukumu ini. Reina sayang… Tolong kembalilah!” Kataku pada Reina.

Dengan sisa-sisa tangan Reina, Reinapun meraba-raba buku yang kuberikan. Reinapun menangis tersedu-sedu, air matanya mengalir bercucuran. Penonton yang ada di sekitarpun ikut menangis terharu.

“Dear, terima kasih untuk semuanya, aku mencintaimu.” Kata Reina sambil sesenggukkan.

Melihat kedua pasangan hebat itu para penggembar Rena tidak henti-hentinya bertepuk tangan.

Reypun memeluk erat tubuh Reina, dan akhirnya mereka kembali bersinar dan bahagia selamanya. Selama, lama, lama, lama, lama, lama, lama, lama, lama, lama, lamanya.

Burung Dalam Sangkar

Setiap pagi aku selalu melihatmu berkicau dengan temanmu. Sambil meneguk secangkir kopi, aku selalu menunggu kamu terbang melintasi jalan di depan rumahku. Aku duduk di teras sambil membaca koran dan sesekali aku menengok ke arah depan. Apakah kamu yang datang, sambil melirik ke arah kanan dan kiri dari jalan itu. Oh, ternyata bukan, ternyata yang lewat hanya burung-burung lain. Saat aku melihatmu, seakan aku ingin menghampirimu, berbicara dengamu, tertawa bersamamu dan masih banyak hal lagi yang ingin kulakukan bersamamu. Tapi hal itu hanya sebuah khayalan bagiku, mungkinkah menjadi nyata. Ah, tapi belum waktunya aku bertindak, kutunggu jika sudah saatnya nanti.

            Ah, burung itu datang. Entah kenapa ketika kamu si burung yang aku maksud ada di dalam penglihatanku, kamu selalu membuatku tersenyum. Matanya yang begitu indah, Bulunya yang elok dan bersinar, wajahnya yang menawan dengan sikapnya yang pemalu, membuatku tergoda akan dirimu. Ah, sepertinya aku jatuh cinta, tapi kenapa harus jatuh cinta kepadamu. Kamu burung pipit mungil yang baru keluar mencari ilmu, sedangkan aku burung pipit yang sudah matang untuk bisa melakukan apapun. Kamu burung pipit yang masih berseragam SMA, mungkin usiamu saat ini masih 17 tahun. Sedangkan usiaku kini sudah menginjak 25 tahun.

            “Oh, tidak.” Kataku sambil berteriak.

            Gaswaaaat, ternyata sudah pukul 07.00 pagi. Aku harus bergegas menuju dunia kerjaku. Tak terasa satu tahun ini sudah berlalu, tak bosan-bosan aku selalu menunggumu ketika di depan rumah. Tapi kenapa kali ini aku tidak melihatnya terbang, apa kamu sudah menjadi burung yang sudah bisa kudekati. Setelah kutanyakan pada burung-burung yang lain, ternyata dugaanku selama ini benar. Yes, waktunya beraksi. Aku ingin merayumu, agar kamu datang ke pelukanku. Aku ingin menikahimu, kamu burung kecilku. Maukah kamu hidup bersamaku, sudikah kamu menjadi pendamping hidupku. Akan kutunggu kamu keluar dari sangkar, karena satu-satunya jalan untuk keluar kan hanya di depan rumahku. Tapi selama sebulan ini, kenapa kamu tidak menampakkan diri.

            “Oh, burung kecilku, aku rindu.” Ucapku entah kepada siapapun yang mau mendengarnya.

            Hati ini mulai memberontak, Pennasaraaaan… Hari ini kusempatkan berjalan di sekitar kampungku, aku sengaja melewati jalan di depang sarangmu. Kulirik sarangmu dari pohon rambutan ini. Dari seberang pohon rambutan ini ada sarangmu, tapi tampak sepi di sana. Dimana burung elokku itu, kenapa tak kelihatan. Kutanya temannya, dimana dia, kenapa dia, pokoknya semuanya aku tanyakan. Sesungguhnya ada yang aneh, ada apa dengannya.

            “Katanya dia tidak boleh keluar dari sangkar, sebelum ia menerima lamaran dari seekor burung jantan yang telah dijodohkan  oleh kedua orang tuanya.” Kata salah satu burung yang sempat aku tanya.

            “Apa.” Jawabku tersentak kaget.

            Darah yang tadinya mengalir begitu lancar, kini dalam hitungan detik telah membeku. Hati ini serasa ditikam oleh seorang pemburu. Wahai burungku dalam sarang, eh bukan. Meskipun di dalam sarang, kamu bagaikan burung dalam sangkar. Tidak bisa terbang, tidak bisa memilih apa yang ingin kamu lakukan. Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkanmu. Akupun memberanikan diri untuk membuka sangkarnya secara paksa. Aku harus menyelamatkanmu, aku berjanji.

            Keesokan harinya aku mendatangi sarangnya bermaksud untuk melamar burung kecilku itu.

“Dia sudah kami jodohkan dengan burung yang lain.” Kata orang tuanya.

            “Tapi dia kan tidak menginginkannya.” Jawabku dengan tegas.

            “Memangnya, kalau denganmu, apa dia juga menginginkanmu.” Balas orang tuanya yang mampu membuatku tertohok oleh kalimatnya.

            “ Kalau begitu, biarkan dia angkat bicara. Berikan dia pilihan, memilihku atau memilihnya.” Katamu mencoba mencari jalan keluar.

            Setelah kedua orang tuanya menyetujui pendapatku. Burung kecilkupun keluar, dengan malu-malu dia duduk tepat di depanku. Gaswaaat, hatiku serasa ingin copot. Tak pernah aku sedekat ini dengan dirinya, tanpa sadar aku terus memandanginya. Oh, indahnyaaa!

            “Jadi nak, siapa yang kamu pilih.” Kata orang tuanya.

            “Saya tidak bisa memilih siapapun, karena sesunggunya saya ingin sekali melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.” Katanya dengan jujur.

            “Sudah kubilang kan nak, kita tidak punya biaya untuk menyekolahkanmu lagi.” Kata bapaknya terus terang.

            “Aku akan membiayai sekolahmu yang lebih tinggi itu, dan aku juga akan menunggumu sampai selesai dengan urusanmu. Tapi, itupun jika kamu memilihku.” Kataku terus terang pada burung itu.

            “ Kenapa kamu melakukannya?” Katanya sambil melihatku.

            “Ka…ka…karena aku mencintaimu.” Akhirnya aku keluarkan kalimat itu dengan gugup.

            “Hmm, kalau begitu, aku akan sekolah lagi sambil menikahimu. Nah, bagaimana?” kata dia yang membuatku terkejut.

            “Hah…” Aku melongo

            Dia tersenyum ke arahku, dan yang puaaling tidak bisa kulupakan adalah kalimat terakhirnya yang membuatku begitu tercengang.

            “Karena aku, juga mencintaimu. Selama ini, sudah mencintaimu sejak lama, aku selalu melirikmu ketika kamu duduk di depan rumahmu tanpa kamu sadar.” Katanya dengan polos.

Senja Tak Berparas

Senja, kamu itu seperti senja. Namun senjamu itu tak seindah senja di atas sana. Senja yang di langit begitu memekikkan mata, warna dan aromanya memberikan rasa nyaman dalam dada. Mungkin Senjaku ini sedang tergores, atau mungkin senjaku ini sedang terluka. Ketika kulihat dinginnya wajahmu, begitu beku, begitu pilu, dan ada apa denganmu. Senjaku, kamu begitu mengoyakkan hatiku, sikapmu itu tak senada dengan anggunnya parasmu. Wajahmu begitu memukau, cantik tapi sederhana, akupun mengagumimu. Aku selalu memikirkanmu, namun sikapmu itu membuatku tak bisa mendekatimu.

“Senja, bolehkan aku bertanya?” kataku kepada Senja, namun tidak bisa kusuarakan.

“Sudikah kau berbagi cerita denganku.” Dalam diam, aku bertanya kembali kepada Senja.

Sekali lagi kutatap langit, mencoba menyusup dan mencari jawaban pasti. Tentang dirimu yang penuh teka teki. Misterius, bagaikan langit yang tak mampu aku sentuh. Ah, langit sore ini begitu indah, ditemani senja yang begitu menentramkan jiwa. Andai saja Senjaku yang sebenarnya di sini, tepat di sampingku, aku pasti akan lebih bahagia lagi, lagi, dan lagi. Jika aku bisa mendapatakanmu, aku janji, akan ku bawa Senjaku itu melihat senja yang ini. Kasur berumput ini, selalu beraroma tanah. Angin pengembara ini, selalu datang dan pergi silih berganti. Tapi tak apa, taman ini mampu menghadirkan segala macam keadaan yang membuatku kagum. Ada rumput yang menggelitik, angin yang mencumbu, tanaman yang menari, dan tentunya ada kamu senja.

Yoosh, akhirnya akupun memutuskan untuk mulai bergerak. Mulai berburu Senja, Senja yang sesungguhnya. Mulai esok akan kudekati diam-diam dirimu itu. Keesokan harinya, aku mulai mengikuti Senja. Kemana pun Senja pergi aku selalu mengikutimu, sungguh diriku ini mata-mata yang cupu sekali karena tidak berani mendekati targetnya. Setiap hari akupun selalu mengikuti Senjaku, lagi, lagi, dan lagi. Tapi karena aku sangat keterlaluan, akupun mulai kalap. Aku malah semakin bernafsu ingin mendekatimu. Aku ingin lebih dari ini, tak bisa aku selalu mengikutimu, aku ingin lebih dekat lagi denganmu. Lebih dekat lagi, lebih dekat lagi, dan lebih dekat lagi. Ah, salahkah diriku ini ingin memilikimu. Salahkah jika aku ingin lebih mengenalmu.

“Jangan mengikutiku, bukankah sudah aku katakan.”Kata Senja sambil membentak.

“Aku, a..aku hanya ingin membantumu.” Jawabku dengan penuh keringat dingin.

Senjapun tak memperdulikanku, masih terus berjalan dan tak menolehku kembali. Ah, aku ketahuan. Aku kembali berpikir, mulai mengatur startegi, dan langkah kakikupun berhenti. Sungguh aku sudah tidak bisa berpikir secara pasti, aku harus buruan mengambil keputusan. Atau Senjaku itu keburu pergi dan sudah tidak terlihat lagi. Masih kuikuti apa sudahi saja, aku sambil melihat Senja dari kejauhan. Jarak kita kini semakin merenggang jauh, Senjaku semakin telihat kecil dan sebentar lagi akan menghilang. Ah, sialaaaan, aku tidak bisa berpikir. Sudahlah, aku ikuti lagi saja, dan akupun mengejar Senja sebelum dia menghilang dari fatamorgana. Tapi kali ini aku tidak boleh ketahuan lagi, aku harus jaga jarak meskipun itu membuatku enggan untuk jauh darinya. Demi suksenya misi, akan kulakukan.

Kenapa dia berjalan lama sekali, sebenarnya kemana Senja ingin pergi. Setelah sekian lama aku ikuti, akupun mulai bertanya-tanya. Sungguh Senjaku itu tak berparas sama sekali, datar dan dingin, cantik tapi begitu sedih, dan gelap tapi bagiku Senja tetap indah. Mulai detik inipun akhirnya aku mendapat jawaban dari setiap jengkal yang telah kutelusuri selama ini. Iya, tentang Senja yang tak berparas. Dan mulai detik ini, parasmu mulai berkedip meskipun aku masih tak mengerti. Kulihat dari jauh, kamu sedang menangis. Bahkan tawamu kadang juga ada di sana, kamu sedang berbicara tapi aku tak tau apa yang kau bicarakan. Kamu seperti begitu akrab dengannya, kamu memberikan seikat bunga mawar merah  itu kepadanya. Kamu mengelusnya, dan bercanda ria dengannya. Dan setelah begitu lama, Senjapun meninggalkannya. Setelah Senja pergi, sekarang giliranku untuk mendekatinya. Tertulis, “Rendy Satria Utama Bin Teguh Utama” di sebuah batu nisan dengan seikat bunga mawar merah di dekatnya. Ah, ternyata selama ini dia yang membuatmu begitu pilu. Akupun mulai memahamimu. Senja, tak akan kubiarkan kamu seperti ini, dan aku mulai mengikuti Senja kembali.

Senja terus berjalan dan berjalan, tanpa berhenti sedikitpun, tanpa menoleh sedikitpun, tapi aku melihat auranya lebih berbeda dari yang biasanya. Senja yang ini seperti sedang bahagia, Senja seperti sedang saaangat bahagia. Bisa kulihat dari jalannya yang kadang-kadang sedikit berjingkrak-jingkrak setelah mengunjungi makam kekasihnya itu.

“ Senja, akan kuganti dia menjadi aku dalam hidupmu.” Kataku dari jauh

“ Aku berjanji.” Kataku lagi dalam hati.

Sambil tersenyum aku mulai berlari mendekatinya. Akan kuberanikan untuk mendekatimu, akan kuubah Senja, seperti senja di sore ini. Senja adalah senja, begitu indah dan mempesona. Warnamu penuh goresan, tapi ya itulah kamu. Iya, kamu itu Senjaku.

Nana Si Batu Berlumut

        Nana itu, sebuah batu yang selalu berlumut. Entah kenapa Nana selalu berlumut meski telah mandi dan terus berulang kali mandi. Mungkin karena Nana memang sudah sakit sejak awal dia diciptakan. Suatu hari, Nana menyukai sebuah pohon yang besar. Dia begitu berbeda dengan pohon – pohon yang lain, begitu indah dan eksotis. Pohon itu begitu menyenangkan, banyak penduduk di sana yang menyukainya. Dia kerap disapa dengan sebutan Rio namanya. Rio selalu dikelilingi bunga yang cantik dan mempesona. Nana mulai melihat dirinya kembali, berpikir, berpikir, dan terus berpikir.

            “Ah, apakah aku pantas memilikinya?” Gejolak hatinya mulai menggeliat.

       Kemudian Nana memutuskan untuk melakukan riset dan observasi. Untuk mengetahui kebenaran dan keyakinan hatinya. Untuk mengetahui dia layak atau tidak layak berada di dekatnya. Untuk memutuskan harus berjuang atau mundur teratur sebelum perasaan Nana terlanjur lebih dalam lagi, lagi, dan lagi. Kemudian Nana mulai mengatur strategi, bagaimana caranya dia masuk ke dalam dunianya Rio. Nah, sekarang bagaimana, Nana hanya terdiam. Tidak lama kemudian karena kemauannya yang kuat, hukum alam menarik Nana menuju dirinya. Yups benar, alam menarik Nana ke dalam dunianya Rio.

           Tiba-tiba saja, entah datang dari mana angin berhasil menyeret Nana ke dalam dunianya Rio. Angin memberhentikan dia tepat di sekitar kerumunan bunga di bawah pohon yang Nana agungkan selama ini. Ya, pohon itu adalah Rio. Entah kenapa Riopun merasa tertarik kepada Nana. Ketika kali pertama melihatnya, Rio merasa ada yang berbeda dalam diri Nana. Begitu berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain, mengagumkan, begitu eksotik dipandang, dan memiliki tekstur dan warna yang berbeda. Ketertarikannya itu membuat Rio menjadi penasaran. Rio selalu memperhatikannya, meliriknya diam-diam dan entah kenapa dengan tingkahnya Nana yang begitu menggemaskan Rio selalu tersenyum sendiri ketika melihatnya. Nana dan Riopun lambat laun mulai merasa dekat satu sama lain. Begitupun dengan penduduk di sekitar sana, Nana mulai akrab dengan bunga-bunga yang mengelilingi Rio.

            Tanpa sadar, setiap hari mereka selalu bercanda ria. Baik antara Nana, Rio, dan bunga-bunga itu. Di suatu malam, ketika mereka sedang berkerumun dan begitu asyik membahas sesuatu, Nana terbatuk. Sebenarnya, Nana sudah terbatuk-batuk selama beberapa hari ini. Nana yang tidak henti-hentinya batuk di malam itu, membuat salah satu dari bunga yang ada di sana mempertanyakan keadaan Nana. Tanpa pikir panjang, bunga itu mulai melontarkan pertanyaan yang cukup membuat hati Nana goyah. Kesempatan bagi Nana untuk menguji makhluk-makhluk di sekitar Rio. Untuk mendapatkan jawaban, Nana melakukan kesengajaan dalam pembicaraan ini.

            “Nana, kok kamu selalu sakit?” Tanya bunga itu tanpa ada rasa kepekaan sedikitpun.

            “ Iya, aku kan penyakitan.” Jawab Nana dengan sengaja, dan akhirnya membuat bunga-bunga itu tertawa terbahak-bahak.

            “Hei, Jagung, jangan mau nikah sama Nana.” Lontar salah satu bunga yang lain dan entah kenapa meskipun itu hanya gurauan, kalimat itu sampai menohok jiwa dan raga Nana.

            Setidak pantaskah itukah, hal pertama yang dipikirkan Nana terhadap dirinya sendiri. Soalnya, memang benar apa adanya bahwa Nana sejak diciptakan dalam keadaan yang tidak normal seperti makhluk lainnya. Waktu itu, Rio sedang sibuk dengan pohon-pohon di sana. Meskipun masih di sekitar Nana dan bunga-bunga itu, Rio tidak mendengar pembicaraan antara Nana dengan bunga-bunga di sana. Rio sedang sibuk mengurus sesuatu dengan para kaumnya. Jadi, Nana tidak sempat mengetahui ekspresi Rio jika mendengar pembicaraan mereka. Nah, perasaan Nana waktu itu benar-benar hancur. Nana  benar-benar tenggelam, Nana merasa tidak pantas bersama dengan Rio. Yah, setelah itu Nana tersadar. Nana hanya sebuah batu berlumut yang tak berdaya, Nana selalu berada di bawah, sedangkan Rio sudah jauh berkembang dan menjulang tinggi sampai di atas. Sampai-sampai Nana tidak bisa melihanya, mengejarnyapun tak mampu. Lalu Nana berpikir, jika Nana selalu di dekatnya. Nanti Nana malah menjadi beban untuk Rio, nanti malah menyusahkan Rio, membuat malu Rio dan muncul berbagai hasutan negatif di dalam otak Nana. Akhirnya, dengan hati yang menangis Nana memutuskan untuk pergi meninggalkan Rio.

            “ Rio, selamat tinggal.”

            “Gomen ne!.” Kalimat terakhir yang diucapkan namun tidak disuarakan.

Gomen ne adalah salah satu kalimat yang di ambil dari bahasa Jepang yang artinya Maafkan aku.

Biografi: Si Cantik dari PJ Valetta

Si cantik yang bertubuh mungil ini adalah kawan yang tak sengaja kutemukan di sebuah acara Pelatihan Seks dan Posyandu Remaja yang  diadakan oleh Pilar KBBI Jawa Tengah. Ake Aulia Fitriana namanya, atau kerap di sapa dengan panggilan Aul waktu dulu kita jumpa bersama teman-teman pilar laiinya. Sebagai PJ-nya group Valetta mungkin untuk kawan-kawan lebih kenal dengan panggilan Ake bukan. Entah dia mau dipanggil Ake, Aul, Akew, ataupun Lia, tapi dia tidak ada duanya.

Satu-satunya wanita spesial yang diciptakan oleh Tuhan untuk hadir menjadi bagian cerita dalam dunia ini. Buah hati dari sepasang suami istri yang bernama Bapak Ngateno dan Ibu Sri Wijiyati ini patut diacungi jempol. Kenapa enggak! Dia tumbuh menjadi wantia hebat dengan penuh segudang prestasi yang membawa harum namanya. Wanita kelahiran Boyolali, 5 Maret 1998 yang dahulu kala masih menginjak masa Sekolah Dasarnya di MI Mahad Al Zaytun, Jawa Barat. Kemudian  menempuh masa SMP di Mts Mahad Al Zaytun, Jawa Barat dan masa SMAnya di habiskan di MA Mahad Al Zaytun Jawa Barat.

Kalau dilihat dari segi pendidikannya dari kecil, wanita ini memang benar-benar agamanya juga tidak mau kalah dengan urusan dunianya. Sudah jelas sekali kalau wanita ini juga ingin menjadi sosok guru yang mampu mengajarkan muridnya dalam kehidupan agama agar kelak nanti mampu menjadi penerus bangsa yang tidak lupa dengan urusan akhiratnya nanti. Kok bisa tau…. Terlihat jelas dari pendidikannya saat ini yang sedang dia tempuh yaitu menjadi salah satu mahasiswa IAIN SALATIGA dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.

Selain  hobinya yang membaca buku, dia juga memiliki hobi yang tidak kalah menarik dengan para peneliti, yaitu dia suka sekali berkesperimen pada sesuatu yang menantang. Yang penting kawannya nggak dijadikan sebagai bahan uji eksperimen ya. Hehe, nggak lah. Karena hobinya yang suka bereksperimen ini, bukan main kalau hasil dari eksperimen-eksperimennya ini membuahkan hasil.

Di kala masa kuliahnya yang sudah semester 7 ini, hasil dari eksperimen dan jerih payahnya ini mampu membuahkan hasil dan siap untuk di panen. Adapun buah hasil yang sudah dia panen adalah menjadi Pemenang Lomba Karya Tulis Tingkat Sekolah dengan peringkat pertama loh. Masa panen yang kedua yaitu pernah menjadi juara 3 Lomba cerpen tingkat sekolah, kemudian pernah mendapat juara 1 lomba cerpen tingkat sekolah, mendapat beasiswa prestasi ketika semester 5, mendapat beasiswa ke kampong inggris, Pare selama 1 bulan dan menjadi delegasi komunita Rumah Jodoh di Pelatihan dan Project bersama menteri Pemberdayaan Wanita Jateng. Hebat bukan!

Udah cantik, islami, berprestasi, sungguh kawanku ini wanita idaman sekali ya. Saat ini yang berkseibukan membimbing les privat, terlebih lagi karena kesenangannya mengajar anak kecil, tidak menyulutkan semangatnya untuk menjadi seorang penulis. Ala hasilnya pun akhirnya dia tunai kembali, apa aja yang dia tunai. Apa ya, apa ya…. Yups, dia ditunjuk sebagai contributor terbaik dam perlombaan sosmed yaitu dalam event, nulis cerpen dengan tema Candu Cinta Sang Muslim, event cerpen tema Harta, event cerpen tema Ikhlas, event nulis surat tema Ibu, event nulis kata mutiara tema Menyatu dengan Cinta Ibu, event nulis kata mutiara tema Patah Hati, event menulis kreatif kilat (mkk), event nulis surat nasional 2017, dan yang terakhir event antologi 7 hari berpuisi di ODOP. Wuaaah, banyak banget yah.

Meskipun dia sedang sibuk dengan urusannya di ujung sana. Tapi salah satu PJ dari group Valetta ini senantiasa hadir di dalam keluarga Valetta dan sedang berusaha menemani dan mendukung kami untuk dapat lulus di tantangan ODOP 8. Terima kasih atas dukungan dan kerja samanya ya kakaaa Aul. Semoga kami semua, anak-anak Valetta dapat lulus dengan memuaskan. Aamiin!

Kucing Mungil

Bukan wanita kalau tidak suka hal-hal yang berbau unyu. Salah satunya aku si wanita yang menyukai sesuatu yang terlihat unyu ketika bertemu dengan mata. Apalagi bagi kalian yang pecinta kucing pasti akan terbius dengan seribu tingkahnya dan seribu mukanya yang sunguh unyu-unyu itu.

Cerita ini bermula dari aku yang kehilangan dan kini menjadi tergantikan. Aku punya seekor kucing hitam putih yang kuberi nama Visi. Tingkahnya yang menggemaskan dan sangat manja membuatku amat terpesona akannya. Parasnya yang cantik, bulunya yang lembut, suara meownya yang begitu manis membuatku semakin tak ingin jauh darinya. Si gendhut yang ternyata aku akan kehilangannya begitu saja. Dia meninggalkanku tanpa sebutir pesan. Mati tak berdaya karena keracunan tikus yang kejam, akupun tidak bisa membantunya. Sudah kuberikan obat penawar racun tapi tidak berpengaruh sama sekali kepada tubuhnya.

Kini tubuhnya semakin lemas tak berdaya, menunggu ajal menjemput dari Sang Kuasa. Aku yang begitu menyayanginya, menangis di sisinnya sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terkahir dan pergi meninggalkanku selama-lamanya.

Entah saat itu mulai banyak kucing yang datang bermunculan ke rumahku. Mulai dari kucing hitam, kucing putih, kucing cokelat, kucing hitam putih, kucing cokelat putih selalu datang bermain di rumahku. Selalu datang silih berganti, tapi ternyata meskipun begitu aku masih belum bisa menemukan pengganti. Ibarat kata kalau orang yang sedang diputuskan pacar dan masih mencintianya itu dinamakan belum move on. Bisanya aku dibuat patah hati oleh seekor kucing. Suatu saat ada kucing mungil berwarna hitam bermain ke rumahku.

Cinta pada pandangan pertama, ternyata tidak hanya mitos belaka saja. Kucing mungil yang unyu, matanya yang indah, mukanya yang menggemaskan, ekornya yang panjang, bulunya yang lebat membuatku tertarik kepadanya. Sayangnya dia sungguh penakut dengan manusia, tapi aku bersiap untuk mendekatinya.

Meskipun di tolak dan ditinggalkan berulang kali aku tetap tidak menyerah. Toh kalau dia meninggalkaku, dia juga akan kembali lagi. Kembali secara diam-diam ketika aku tidak ada dan yang ada hanyalah sepiring makanan yang aku suguhkan di lantai dengan sepotong ikan asin dengan campuran setangkup nasi. Lalu dia diam-diam menedekati dan makan makananku itu.

Kesempatanku untuk mendekatinya, dia yang sedang tidak sadarkan diri masih terus melahap makananku dengan mulut mungilnya itu.
“Sssst.” Tangkapan jitu berhasil .
Aku berhasil menangkap kucing mungil itu, kuelus-elus kepalanya. Lagi dan lagi, lagi-lagi, lagi dan lagi. Setiap kali kulakukan hal seperti itu terhadap dirinya, dan akhrinya diapun takluk juga.
Entah kenapa setelah itu, ketika sudah lama tidak kuelus-elus dia diam-diam mendatangiku.
“Meowww.” Mengeong di hadapanku.
“ehehehe.” Akupun terkekeh.
Si kucing mungil itu kini kembali memperjuangkanku, dia mulai diam-diam mendekatiku. Diam-diam ingin tidur denganku, mengeong di hadapanku. Terkadang mengelus-negluskan kepalanya di kakiku, dan menjilat-jilati jariku. Demi mendapatkan perhatianku. Dan sekarang, kucing mungilku itu akhirnya mulai menetap di rumahku dan ingin menjadi milikku. Duuh kucing mungilku yang unyu, yang duduk dipangkuanku.” Kawaii ne! (Lucu ya).”